Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts

Saturday, March 19, 2016

Peran Orangtua dalam Pendidikan anak


Miris mungkin adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan kondisi generasi muda saat ini. Hampir setiap hari kita bisa melihat di berbagai media kasus-kasus kejahatan fisik maupun seksual yang melibatkan anak-anak indonesia. Anak-anak ini bukan hanya sebagai korban melainkan juga sebagai pelaku kejahatan. Singkatnya, generasi muda indonesia saat ini tengah mengahadapi krisis akhlak, karakter serta kepribadian. Dalam hal ini barangkali sebagian besar dari kita sepakat bahwa pendidikan adalah pihak yang paling bertanggungjawab pada kondisi krisis ini. Karena memang sistem pendidikan diciptakan untuk tujuan membentuk akhlak serta karakter generasi muda yang lebih baik.

Sayangnya, saat ini sekolah sebagai institusi yang diberikan mandat sebagai tempat pembentukan karakter tersebut kini telah kehilangan orientasi yang semestinya. Sebagian besar sekolah seolah-olah memerankan dirinya hanya sebagai sebuah perusahaan jasa. Seperti layaknya sebuah perusahaan, sekolah hanya fokus untuk memproduksi manusia-manusia “pintar” dan mendapatkan keuntungan dari aktivitas produksinya tersebut. akibatnya, Fokus sekolah lebih banyak mengarah pada aspek kognitif anak dan cenderung menihilkan aspek akhlak dan kepribadian. Maka, tidak heran jika dewasa ini sering kita jumpai kabar di media yang memberitakan berbagai kasus kejahatan fisik maupun seksual justru terjadi di lingkungan sekolah. Lalu, jika sekolah dianggap gagal dalam pembentukan karakter generasi muda saat ini, siapa yang kemudian harus berperan? 

Seperti yang kita pahami bahwa pendidikan adalah sebuah sistem yang terdiri dari berbagai subsistem. Untuk berjalannya sebuah sistem ini maka subsistem-subsistem tersebut harus saling mendukung satu sama lain. Sekolah adalah salah satu subsistem di dalam pendidikan. Selain sekolah ada subsistem lain yang berperan didalam pendidikan yaitu keluarga dan lingkungan. Dalam hal pembentukan karakter, keluarga sebetulnya adalah subsistem yang paling besar perannya. Akan tetapi di era modern ini, fungsi keluarga sebagai madrasah akhlak bagi seorang anak seperti terpinggirkan dengan sendirinya. Banyak keluarga yang seolah-olah mendelegasikan begitu saja perannya di dalam pendidikan anak kepada sekolah. Padahal keluarga memiliki fungsi yang sangat penting pada pembentukan karakter seorang anak. Orangtua adalah lingkungan pertama dan utama dimana anak berinteraksi, artinya disinilah dimulai suatu proses pendidikan. Sehingga orang tua berperan sebagai pendidik bagi anak-anaknya. Lingkungan keluarga juga dikatakan lingkungan yang paling utama, karena sebagian besar kehidupan anak berada di dalam keluarga, sehingga pendidikan yang paling banyak diterima anak adalah dalam keluarga. Oleh karena itu, orang tua tidak boleh menganggap bahwa pendidikan anak hanyalah tanggung jawab sekolah. 

Peran keluarga di dalam mendidik akhlak serta karakter putra-putrinya harus dipahami oleh para orangtua sebagai prioritas yang harus dilakukan daripada menyerahkan sepenuhnya pendidikan itu kepada sekolah. Pendidikan karakter harus dimulaii dari rumah, orangtua harus mulai berperan sebagai pendidik. Sebagai pendidik orangtua harus menjadi teladan bagi anak-anaknya karena pendidikan yang efektif itu bukan berasal dari bahasa tutur melainkan bahasa tubuh dengan perbuatan. Selain itu menanamkan nilai-nilai agama di dalam keluarga juga menjadi hal yang sangat penting. Pendidikan agama harus diberikan kepada anak sedini mungkin. Pendidikan agama yang diberikan bukan semata ritual tetapi berikut dengan nilai dan makna ritual itu sendiri, serta anak-anak harus diajarkan untuk mengembalikan standar baik dan buruk kepada prinsip-prinsip agama 

Di era yang semakin maju ini, Jangan sampai menjadi orangtua yang berfikir bahwa mendidik itu in-stinktif, artinya jadilah orangtua yang mau belajar, setiap orangtua perlu belajar bagaimana seharusnya menjadi orangtua. Selain itu, orangtua juga harus gagah teknologi (melek teknologi) bukan sebaliknya, gagap teknologi. Karena dengan begitu orangtua bisa aktif mengawasi anak melalui media sosial maupun isi handphone anak. Hal ini penting untuk mengawasi sekaligus melindungi anak dari bahaya pornografi yang marak saat ini. Dan yang terakhir adalah orangtua juga harus menjadi teman bagi anak. Artinya orantua harus belajar memahami perasaan anak dengan cara ikut aktif melibatkan diri jika anak sedang dalam masalah. 

Keluarga adalah madarasah pertama bagi anak, Ayah dan ibu adalah ujung tombak pendidikan karakter. sudah seharusnya di masa krisis akhlak generasi muda kita saat ini peran keluarga kembali dikedepankan.

Thursday, February 27, 2014

Untuk Dunia Yang Ramah Anak


Seperti biasa, senja selepas belajar bersama dengan adik-adik rumbel yang ceria di sudut kota lumpia sana, saya pulang mengendarai sepeda motor menyusuri jalan-jalan utama kota, senja yang basah, karena dari siang tadi hujan mengguyur rata, membagi rahmatnya ke seluruh kota, saya melintasi jalan raya yang basah memburu waktu karena sebelum isya sudah ada janji dengan seorang teman di masjid dekat kampus…saat berhenti di traffic light, saya mendapati pemandangan yang mengiris dada. Senja itu gerimis masih cukup deras, seorang gadis kecil 4 atau 5 tahun menangis sendirian di samping tiang traffic light, anak jalanan, bajunya yg kumal basah terguyur gerimis hujan, tak lama gadis kecil lain seusianya menghampiri mengajaknya berteduh, saya menatapnya sekilas ketika lampu hijau memaksa saya untuk segera melaju.

Namun saya tak bisa melupakan gadis kecil itu, tubuhnya yang ringkih, bajunya yang kumal dan suara tangisanya yang memilukan, Sepanjang sisa perjalanan saya hanya bisa membayangkan dimana keluarganya, sudahkah gadis kecil itu makan, apakah dia punya baju kering untuk ganti, pertanyaan2 itu sempat membuat mata saya berkaca-kaca. Ingin rasanya membujuknya diam dan membawa serta pulang, tapi tentu persoalannya tak sesederhana itu.

Itu bukan moment yang pertama, begitulah…saya selalu trenyuh tiap kali menyaksikan kerasnya dunia yang dihadapi anak-anak di jalanan, kehidupan jalanan yang keras tak seharusnya di alami anak-anak sekecil itu. di usia mereka, bermain dan belajar di lembaga pendidikan adalah hak yang sepetutnya mereka dapatkan. saat ini setidaknya sudah lebih dari 230 ribu anak hidup di jalanan, jumlah ini adalah yang terdata oleh otoritas politik bernama pemerintah. bisa saja jumlah ini lebih banyak jika kita menghitungnya dengan tanpa tendensi kepentingan. karena pada kenyataanya, jumlah anak jalanan di setiap kota di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. ahh sudahlahh...saya tidak ingin membahas itu kali ini. saya sangat mengapresiasi mereka yang tergerak hatinya dan berjuang dengan gigih untuk mengentaskan mereka dari jalanan dan memberikan hak-hal mereka, berbagi keceriaan, bermain dan berbagi ilmu dengan sukarela, alangkah mulianya mereka…saya selalu berharap pemerintah benar-benar serius untuk membuat undang-undang atau peraturan yang memproteksi anak-anak, memastikan hak-hak mereka terpenuhi tanpa melihat latar belakang ekonomi maupun sosial mereka. peraturan yang benar-benar melindungi bukan produk politis yang hanya formalitas legislasi. selain itu, ada kemauan hukum yang kuat untuk menghukum setimpal orang-orang yang tega mengeksploitasi anak, melakukan kekerasan diluar kewajaran dengan alasan apapun. entah kapan harapan-harapan itu bisa terwujud, yang jelas saat ini berharap pada pemerintah tak akan menolong sama sekali, kita harus memulainya, memulai paling tidak dari diri sendiri.

Anak-anak selalu menjadi mata rantai terlemah di dalam struktur masyarakat. Tubuhnya yang mungil, pengetahuanya yang belum sempurna dan pengalamanya yang minim menjadi alasan bagi sebagian orang dewasa untuk merasa bisa untuk bertindak superior terhadap mereka. kita sebagai orang dewasa harus berkaca bahwa anak-anak adalah amanah, tugas orang dewasa untuk mendidik dan menjaganya, maka muncul pertanyaan : jika bukan kita, siapa lagi yang bisa menghadirkan dunia yang ramah bagi anak-anak?? kita hanya perlu memulainya,,,hingga kini saya masih memimpikan memiliki taman bermain, tempat belajar yang tak harus terlalu besar, yang penting terjangkau dan nyaman untuk anak-anak …disana terdapat ruang perpustakaan yang banyak bukunya, buku-buku yang mendidik untuk anak-anak. ada rumah pohon dan tempat bermain untuk mereka, ada sanggar untuk tempat kreasi anak-anak, kreativitas anak-anak tertuang disana,dimana mereka bisa melukis, bernyanyi, bermain alat musik tradisional atau sekedar berolahraga ringan.
Semoga dapat terwujud…..


- Suwandi Suwe 
di sore yang basah, Februari 2014


source gambar : www.guetau.com

Wednesday, February 26, 2014

*Menakuti atau Mendidik?" - Refleksi untuk Para Pendidik

Saya pernah ditanya soal ini dalam sebuah sesi workshop kepenulisan, seorang penanya, guru Bahasa Indonesia sebuah SMA, bertanya: "Anda bilang, tidak ada tulisan yang bagus atau jelek. Anda juga bilang, tulisan hanyalah soal relevan atau tidak relevan dengan pembaca, bermanfaat atau tidak bermanfaat. Lantas bagaimana kami harus menilai tulisan yang dibuat oleh murid2 kami? Kan kalau tidak ada yang bagus atau jelek, bagaimana memberikan angka nilainya?"
Ini jenis pertanyaan yang sangat dalam, yang tentu saja, siapapun yang akan memberikan jawaban dengan seketika menunjukkan bagaimana dia memahami masalah ini. Jawaban saya simpel: berikan saja nilai bagus. Jika nilai terburuk adalah nol, paling bagus adalah 100, maka apa susahnya seluruh tulisan murid2 dikasih nilai 80, atau bila perlu 90.
Kalau kita sekolah di universitas2 besar Amerika, atau Jepang, maka kita akan menemui guru besar, profesor dengan wisdom yang amat menakjubkan soal ini. Mereka sering bicara dalam banyak kesempatan, atau banyak murid2nya (mahasiswa kita yang kuliah di sana) yang membuat tulisan atas pemikiran mereka, dan sangat menarik membacanya, memahaminya. Kadang, betapa berbedanya cara kita memandang proses pendidikan. Dan itu tercermin dari komentar kita, perbuatan kita, dan keputusan kita.
Sebenarnya apa sih fungsi seorang guru? Mendidik? Atau memberikan nilai? Mendorong, memotivasi? Atau menekan, atau menakuti? Apa sih sebenarnya fungsi seorang guru? 
Lantas apa sih tujuan dari kita semua belajar? Menemukan ilmu baru? Atau hanya mempelajari yang ada? Menambah khazanah ilmu? Atau sekadar memperoleh nilai dari ilmu2 tertulis di buku? Mencari ilmu? Atau mencari angka dan ijasah? Apa sih sekolah itu? Taman bermain penuh ilmu, atau panci panas tekanan tinggi?
Lihatlah, dalam ujian skripsi, thesis, di negeri ini, para penguji berubah menjadi harimau lapar, galak sekali menghabisi mahasiswanya. Astaga? Apa poin-nya? Di mana hakikat mendidik jika sebuah ujian hanya menjadi neraka, bukan sebaliknya tempat menyenangkan utk berdiskusi, kemungkinan2 penelitian lanjutan, dan kemungkinan2 munculnya ilmu baru. Lihatlah, jutaan murid2 kita setiap tahun harus melewati ujian nasional. Apa poin-nya? Untuk membuat klasifikasi? Untuk menyimpulkan sebuah proses pendidikan? Siapa yang pintar, siapa yang goblok. Siapa yang boleh lanjut sekolah, siapa yang cukup di sini saja daripada nanti merepotkan? Padahal bukankah, orang paling goblok sekalipun berhak atas pendidikan lanjutan. 
Tidak bisakah kita memberikan nilai dalam bentuk kalimat: "Anda telah berusaha dengan sungguh2, memulai dengan amat berat, tapi Anda menunjukkan kemajuan yang sangat baik, teruslah berusaha. Perbaiki kalimat pembukanya, lebih banyak mencari referensi, jangan takut membuat analisis, lantas berikan kesimpulan yang kokoh." Kemudian sebagai guru kita tuliskan A, atau 90 di karya tulis murid tersebut. Tidak bisakah kita menjadi guru yang mendidik, bukan menghakimi. Kita toh bukan polisi yang memang bertugas menghukum, juga bukan hakim yang memang menghakimi. Kita adalah pendidik, hukuman dari kita pun sifatnya adalah mendidik.
Saya tahu, kita tidak hidup dalam sistem yang selalu mendukung filosofi mendidik yang kita pahami. Bahkan boleh jadi, kita malah dibenturkan dengan realitas menyakitkan. Tapi tidak apa, Kawan. Kita tetap bisa punya ruang untuk menjadi guru yang selalu mendorong murid2nya. Saya selalu menemukannya dalam sejarah sekolah formal yang saya miliki. Ketika SMA, saya menemukan guru2 baik yang tidak peduli soal nilai, tidak peduli soal angka2, selain terus melatih anak muridnya berkembang. Dalam pelajaran bahasa Indonesia misalnya, saya pernah punya guru yang menciptakan pekerjaan rumah yang menarik, tugas2 yang hebat, bahkan saat ujian sekalipun, dia membuat soal2 yang menakjubkan, menantang kemampuan menulis, dan itu sungguh memicu kemampuan murid2 untuk menjadi penulis. Tidak apa, kalau memang tetap terpaksa memberikan angka untuk nilai. Tapi bukan berarti kita tidak bisa menjadi guru yang selalu memotivasi murid2nya.
Buah dari pendidikan itu baru akan dipetik di masa depan. Ibarat menanam pohon. Jika sejak awal akar2nya keropos, malah disiram dengan pupuk ketidakjujuran, kecurangan, besok lusa buahnya akan pahit dan merusak. Tapi jika sejak awal akar2nya kokoh, disiram dengan integritas dan kasih sayang mendidik, meski sekarang tidak terlihat heboh, keren, dahsyat, besok lusa justeru buah yang akan dipetik terasa manis dan bermanfaat. Dari mana sih datangnya orang2 jujur? Orang2 yg peduli? Orang2 yg bermanfaat? Dari proses pendidikan yang baik. Orang2 ini tidak datang dari proses sim salabim, muncul dari kotak.
Maka, darimana datangnya orang2 korup? Jahat sekali menzalimi hak orang lain? Dari proses pendidikan yang buruk. Orang2 ini tidak seketika jadi jahat. Semua orang seharusnya bercermin, termasuk penulis seperti saya, apakah sudah memberikan tulisan2 yang bermanfaat, mendidik atau sebaliknya. Tulisan yang seru2an, heboh, laku, membuat kaya raya, besok lusa pembacanya jadi apa, lupakan soal lainnya. 
Semoga semakin banyak yang mau memikirkannya....

Sumber : Status Facebook Darwis Tere Liye 

Thursday, December 26, 2013

Anak Jalanan, Satoe Atap, Puncak Ungaran : “Cerita dan Hikmah Sepanjang Perjalanan” Bag.2

Oke…seperti yang saya sampaikan sebelumnya, beberapa hari yang lalu saya berkesempatan ikut serta dalam kegiatan teman2 satoe atap bersama anak-anak jalanan simpang lima, agendanya hiking (naik gunung) ungaran. saya diundang mewakili komunitas sahabat pulau, komunitas yang saya ikuti. Komunitas sosial yang bergerak dalam pendidikan anak juga, terutama anak-anak dari keluarga miskin dan daerah-daerah marjinal  (yang belum tau sahabat pulau semarang bisa follow twitternya @sahabatpulauSMG atau gabung grup fb nya Rumah Belajar Harapan Sahabat Tenggang, atau bisa kunjungi websitenya www.sahabatpulausemarang.com ,hehe….) kegiatan ini sendiri diadakan dalam rangka mengenalkan alam kepada anak-anak jalanan. Walaupun sepanjang perjalanan saya tidak menemukan penekanan untuk tujuan yang satu ini,hehe…selain juga sebagai sarana mendekatkan kembali anak-anak jalanan dengan komunitas satoe atap yang menurut volunteer mereka sedang dalam masa re-organisasi karena sempat vakum beberapa saat sehingga sedikit kehilangan momentum dalam hal kedekatan dengan anak-anak jalanan binaan mereka. sebagai guide perjalanan, teman2 satoe atap dipandu oleh kompas (grup pecinta alam teknik mesin Undip). Banyak alasan kenapa saya ikut serta dalam ekspedisi ini, yang pertama, sudah lama saya tidak merasakan suasana pegunungan, menghirup udara segar puncak gunung, membelai embun, memijak bebatuan basah dan menikmati indahnya alam ciptaan Allah yang maha agung, selain juga terapi untuk membersihkan berbagai penyakit hati (akan saya ceritakan ini nanti), kedua saya ingin berinteraksi dengan anak-anak jalanan secara lebih dekat, mendengar cerita mereka…dan agenda ini adalah saat terbaik untuk melakukan itu. dan yang terakhir adalah menambah teman, berjumpa kawan-kawan baru adalah kegemaran saya sejak dulu… :)
sebelum ke promasan nyanyi dulu
Perjalanan dari semarang sabtu pagi sekitar jam 10 dan sampai di pos medini jam 1 siang, untuk transportasi sampai ke pos medini kami naik truk…oiya, dari sahabat pulau semarang saya tidak sendiri, saya bersama rekan volunteer saya di SPS (sahabat pulau semarang), namanya deka, dia mahasiswi sastra inggris unnisula angkatan 2011...oke,lanjutt..agenda pertama pasca turun dari truk adalah makan siang, setelah itu briefing dan langsung menuju pos promasan… (sebenernya saya nunggu ada sesi perkenalan disini, tapi ternyata tidak ada,hehe..). sepanjang perjalanan hamparan hijau kebun teh menyapa kami, di bagian lain pohon-pohon besar di dalam lebatnya hutan berbaris membentuk tembok benteng yang membentang sejauh mata memandang.  saya paling suka berjalan di alam dengan baris-baris hijau pepohonan sebagai latar pemandangan seperti ini. Rasanya saya bisa begitu rileks ketika ada di tempat seperti ini…ditambah lagi gerimis ikut menyapa kami di tengah perjalanan. Buat saya Inilah saat dimana refresh n’ maintenance pikiran dilakukan… Sampai di promasan, tepat jam 3 sore, kami istirahat di rumah penduduk yang memang sudah biasa menjadi tempat menginap para pendaki…disini kami beristirahat memulihkan stamina untuk melanjutkan perjalanan ke puncak pada pagi harinya.
bareng kak mayang 
Ada banyak pelajaran dan hikmah dari setengah perjalanan ini, yang pertama kaitanya dengan pendidikan, diam-diam saya mengamati pola interaksi antara anak2 jalanan tersebut dengan kakak2 pendampingnya. Ada yang menarik (maaf sedikit mengkritik), bagi saya pendidikan dan keteladanan adalah satu paket yang tak terpisahkan, mahatma Gandhi pernah mencontohkan dalam kisah nya yang mahsyur tentang perkataanya kepada seorang anak yang sakit akibat terlalu banyak makan garam, Gandhi berhenti makan garam demi menasehati anak itu agar berhenti makan garam, dan akhirnya anak tersebut berhenti makan garam untuk selama-lamanya…inilah keteladanan. Besar nilainya dalam pendidikan. Oke, jadi ceritanya…dalam perjalanan, ada pendamping yang selalu me’wanti-wanti’ anak-anak jalanan itu untuk menjaga sikap dan perkataan, tapi saya perhatikan juga ada beberapa ‘oknum’ pendamping lain yang justru melanggar ‘wanti-wanti’ tersebut,hehe…ini sama saja dengan ‘melarang anak anda berteriak, dengan berteriak’ atau ‘melarang anak anda merokok, sedangkan anda sendiri merokok’, sampai kapanpun anak anda tidak akan pernah berhenti merokok… jadilah sepanjang perjalanan, anak-anak jalanan tersebut menjadi tidak segan bersikap dan berkata yang melanggar ‘wanti-wanti’ tersebut.. kemudian yang kedua soal keyakinan. mungkin Ini berlaku hanya untuk saya sendiri, karena bisa jadi tiap orang berbeda pemahamannya…saya mengamati ternyata ada juga oknum2 pecinta alam yang dekat sekali dengan hal-hal berbau klenik. (nah lhoo…kenapa bisa begitu?) contoh, saat memasuki hutan “hutan ini ada penunggunya, bersikaplah sopan” oke good, but…jika ingin melakukan sesuatu ijin dulu sama yang nunggu ya, buang air misalnya…buat saya ini berlebihan dan bahkan bisa mendekati kesyirikan, dalam keyakinan saya bumi seisinya ini milik Allah, dimanapun anda berada ikutilah aturan Allah, semua punya aturan, saat ingin buang air pun sudah ada aturanya…ikutilah aturan itu, sudah cukup!!tak perlu ada embel2 ijin sama bangsa jin dsb, dalam agama dan dalam pemahaman saya tak ada pembenaran untuk hal seperti itu…perjalanan naik gunung yang harusnya diisi tasbih atas nikmat keindahan yang Allah berikan berupa hutan, gunung dan perbukitan tak layak rasanya di tunggangi nuansa klenik semacam itu…
yudi, mas popo, kuncung dan agus
Next, setelah istirahat…jam 3 pagi kami bangun dan bersiap menuju puncak, udara cukup dingin, seperti biasa sebelum berangkat briefing terlebih dahulu..perbekalan disiapkan and finally, baru jam 4 lebih kami mulai mendaki, tanah masih licin akibat hujan sepanjang hari sebelumnya, setengah perjalanan ada salah seorang anak pingsan tepat di depan saya… umi namanya, posisinya tepat didalam hutan dengan medan yang cukup terjal, untungnya saya tepat berada dibelakangnya saat tubuhnya terjatuh, saya sudah beberapa kali naik gunung, dan ini adalah pengalaman pertama saya menghadapi situasi ada pendaki yang pingsan, beruntung ada tim P3K di dalam rombongan, akhirnya anak tersebut di tangani tim dan dibawa kembali ke posko sedangkan yang lain melanjutkan perjalanan.
iin, umi dan krisna
Satu lagi, satu hal yang kadang jadi tantangan saat ikut kegiatan bersama yang kita bukan panitianya adalah me-manage waktu sholat, untuk agenda ke puncak kali ini sepertinya tidak ada agenda sholat subuh berjamaah, waktu menunjukkan jam 5.30, dan saya belum sempat sholat subuh, akhirnya saya putuskan berjalan lebih dulu di depan, bersama 3 orang anak yang lebih dulu berjalan di depan saya, setelah melewati vegetasi hutan sampailah saya ditempat yang landai…ada sekumpulan anak-anak SMP disana, mereka bersama beberapa orang Pembina, Alhamdulillah akhirnya saya bisa sholat disana, setelah sholat saya sempatkan berkenalan dengan rombongan tersebut, anak-anak ini menarik perhatian saya…ya, saat saya sampai di tempat itu, mereka neramai-ramai sedang membaca al-qur’an…selidik punya selidik ternyata mereka adalah rombongan anak-anak SMP bina insani, jumlahnya sekitar 20an anak ditambah 3 orang pendamping, saya sempatkan berkenalan dengan pendamping mereka dan melanjutkan perjalanan keatas bersama-sama, 3 anak jalanan dari rombongan kami sudah lebih dulu naik sedangkan rombongan besar kami masih di belakang…ada kesan yang dalam saat berjumpa adik2 bina insani ini, sebuah kontradiksi yang kadang luput tanpa disadari. Perjalanan naik gunung sejatinya adalah bentuk perenungan bahwa Allah adalah pencipta alam yang maha besar, diatas gunung yang besar nan gagah itu manusia menjadi terlihat begitu kecil, tak pantas rasanya bersikap sombong disana, maka, sudah selayaknyalah perjalanan ke puncak gunung adalah juga sebagai bagian dari upaya mengingat Allah…melalui ciptaannya yang agung, jadi jangan sampai upaya mengingat Allah ini malah kemudian menjadi ajang melalaikan perintah Allah yang lain…seperti sholat misalnya, dan anak-anak ini memberi hikmah yang begitu dalam tentang komitmen ini, bahkan di tengah udara yang dingin itu mereka sempat tilawah alqur’an, sedangkan saya, sholat subuh saja hampir ketinggalan.
on the top of the mount
Berada diatas gunung adalah saat yang selalu berkesan buat saya, sebetulnya ini adalah ke 5 kalinya saya berada di puncak ungaran, tapi saya tidak pernah bosan dan kehabisan minat untuk kembali berada di gundukan bukit berbatu yang jadi puncaknya gunung ungaran itu. (Malah yang habis minat buat saya adalah sesi foto2nnya,hehe…) di atas sana saya lebih suka berlama-lama memandang hamparan hijau kebun teh dibawah bukit, melihat betapa kecilnya rumah-rumah dibawah sana atau jejeran gunung-gunung lainnya yang kokoh berdiri menantang  kiri dan kanannya. Buat saya moment seperti ini tak bisa dibayar dengan apapun. sayangnya keindahan seperti ini kadangkala dirusak oleh tabiat umum para pendaki yang dengan seenaknya meninggalkan sampah begitu saja, dan kadangkala perbuatan membuang sampah seenaknya ini justru dilakukan oleh mereka yang berlabel ‘pecinta alam’, walaupun tidak semua demikian. ada satu lagi…ini juga satu hal yang cukup mengganggu buat saya, bagi saya udara segar adalah bagian lain dari keindahan pegunungan, tapi menjengkelkan memang udara segar justru sama sekali tidak bisa saya nikmati saat berada dipuncak gunung, asap rokok merajalela, berkuasa dipuncak sana, ini jelas ironi buat saya yang tidak suka asap rokok (fyi : dulu saya pernah dibilang banci karena tidak suka asap rokok, sekarang banci malah banyak yang merokok,hehe…) seandainya ‘oknum2’ pecinta alam ini menyadari jika menjaga udara segar di puncak gunung ini adalah juga bagian dari mencintai alam, alangkah baiknya…
reggae time bareng mas popo
Setelah beberapa saat di puncak, kami turun kembali menuju pos promasan, perjalanan turun terasa lebih cepat…lagi-lagi saya berjalan paling depan, bersama 5 orang anak jalanan. Di dalam perjalanan saya banyak berbincang dengan mereka, tentang hidup mereka dijalanan. Pengalaman mereka dan hal-hal nyeleneh yang pernah mereka lakukan. Romadhon, yudi, kuncung, popo dan agus...kisah hidup mereka mirip, mereka pernah menjajaki beberapa kota sebagai anak jalanan, usia mereka seumuran dengan saya, diantara mereka berlima yang menarik perhatian saya adalah mas popo, dari awal saya memang tertarik dengan tabiatnya yang tak banyak bicara, saat berkomunikasi dia cukup santun dan menyukai interaksi yang serupa diskusi, selama perjalanan dialah yang paling sering saya ajak berbincang, pengalamanya di jalanan sudah sangat tinggi, diantara anak-anak yang lain dia termasuk senior, pantas jika pengetahuanya juga luas, dia bercerita pernah menjadi gelandangan di berbagai kota, mulai dari jogja, Jakarta sampai bali pernah dia jajaki. Selain itu dia juga banyak kenal teman-teman aktivis buruh di semarang, kebetulan teman SPS saya, deka, juga cukup aktif di organisasi semacam ini.
mas popo in action
Satu lagi yang menarik perhatian saya adalah hasan, kebiasaanya yang suka berbicara dengan bahasa jawa kromo membuat saya tertarik berbincang banyak denganya, seharusnya dia sudah kelas 1 SMA, tapi sejak kelas 4 SD dia berhenti sekolah, hidup dijalanan sudah dijalaninya bertahun-tahun mulai dari ngamen, kerja partime di warung penyet sampai menjad tukang parkir dadakan tiap malam di simpang lima, dia suka sekali memancing di tengah laut, kesan saya saat berbincang denganya adalah ternyata perangai dan tindak tanduknya sangat sopan walaupun dilihat dari luar tampilannya memang tampak berantakan. Saya tidak sempat berbincang satu persatu dengan mereka semua, hanya beberapa yang saya ajak berbincang singkat, tapi dari perjumpaan yang singkat itu setidaknya meninggalkan kesan yang mendalam bagi saya, bahwa mereka layaknya anak-anak yang lain, pada dasarnya adalah anak-anak yang baik. Lingkungan hidup yang keras dan keterpaksaanlah yang membuat mereka menjadi terkesan ‘liar’ dan ‘berantakan’, mereka hanya butuh tempat dimana mereka bisa memperoleh bimbingan, mereka juga butuh dukungan untuk terus survive, dan oleh komunitas satoe atap inilah peran-peran seperti itu dilakukan…diakhir perjalanan mereka sempat menampilkan kreasi mereka berupa lagu yang mereka gubah beramai-ramai. Dari lirik lagu yang mereka buat saya menangkap bahwa di dalam hati mereka ada harapan untuk bisa menikmati hidup layaknya anak-anak dan remaja lainnya, mereka ingin dianggap sama dengan anak-anak yang lain… Romadhon, yudi, kuncung, agus, popo, krisna, tuyul, pesek, hasan, umi, iin dll terimakasih untuk perjumpaan yang sangat berkesan  ini. Diam-diam saya belajar banyak dari kalian…

Anak Jalanan, Satoe Atap, Puncak Ungaran : “Cerita dan Hikmah Sepanjang Perjalanan” Bag.1

Apa yang ada dipikiran kalian saat mendengar kata “anak jalanan”?? beragam persepsi pasti muncul disini…mereka bisa saja dianggap sebagai pengganggu yang menjengkelkan di dalam bis kota saat suara sumbang mereka mengiringi perjalanan pulang kerja anda yang melelahkan dan diakhiri permintaan receh yang kadang sedikit memaksa, atau di lampu merah kota saat tangan-tangan dekil mereka meminta recehan yang jika sedang jail kadang mereka memukul-mukulkan tangan dekil itu ke kaca mobil hanya untuk 500an rupiah dari anda, mereka juga bisa dianggap bagian dari praktek terselubung mafia peminta-minta yang konon katanya pendapatan mereka sebulan macam direktur perusahaan atau pejabat senayan sana…mereka, anak-anak jalanan juga selalu identik dengan kekerasan, kriminalitas dan semacamnya sehingga sebagian besar dari kita lebih memilih menjauh dari mereka dengan berbagai alasan, semisal keamanan begitu...ya, sebagian dari kita mungkin berfikir demikian!! Tapi pernahkan kita berfikir jika mereka juga adalah bagian dari generasi penerus bangsa yang harus diperhatikan, mereka bukan generasi ‘gagal’ yang harus disingkirkan, sama halnya seperti anak-anak lain di bumi indonesia ini, mereka punya hak yang sama untuk menikmati hari-hari mereka layaknya anak-anak pada umumnya, bergembira, bermain, belajar dan bermimpi menjadi apa saja sesuai keinginan mereka dan mengejarnya sama seperti kita.
Anak Jalanan bukan generasi 'gagal'
Di kota ini, Semarang…persoalan anak jalanan memang tidak ada habisnya, bahkan kecenderungan dari tahun ke tahun jumlah mereka terus bertambah, Dinas sosial mencatat di tahun 2013 ini jumlah anak jalanan di kota ini sebanyak 350 anak, jumlah ini meningkat jika dibandingkan tahun sebelumnya, 2012 yang jumlahnya sekitar 275 anak...jumlah ini diyakini masih belum seluruhnya karena masih banyak dari mereka yang belum terdata dinas sosial. Saya sendiri memang sudah beberapa bulan ini berkecimpung dengan angka-angka statistic anak jalanan di kota semarang karena kebetulan Tesis yang saya ambil untuk studi s2 saya berkaitan dengan kebijakan terkait anak jalanan di kota lumpia ini. pemerintah berdalih jika penanganan terhadap anak-anak jalanan terhambat salah satunya akibat dari belum adanya perda yang mengatur secara khusus penanganan terhadap mereka, dan tahun 2013 ini perda itu sedang dibahas oleh dewan yang terhormat dan 2014 nanti rencananya baru siap untuk di implementasikan. Kita tunggu saja hasilnya…

Komunitas Satoe Atap dan Kompas Bersama Anak2 Jalanan Simpang 5

But, diluar itu…pembinaan anak-anak jalanan di kota semarang sudah banyak dilakukan oleh berbagai yayasan, NGO maupun komunitas di luar pemerintah, sebut saja yayasan setara dan gradhika yang sudah sejak awal reformasi ikut turun tangan membina anak-anak jalanan kota semarang dengan program rumah singgahnya. selain itu berbagai komunitas juga ikut berperan mendampingi anak-anak jalanan ini, salah satunya adalah komunitas SATOE ATAP, dan beberapa hari yang lalu saya berkesempatan mengikuti agenda mereka yang bertema friend hiking bersama komunitas simpang lima (komunitas anak jalanan binaan mereka) di gunung ungaran,oke…bicara soal komunitas SAtoe Atap, sebetulnya sudah lama saya mengenal komunitas ini, sejak tahun pertama kuliah tepatnya, tahun 2008 saya mulai berkenalan dengan komunitas ini, saat itu Satoe Atap baru 1 tahun berdiri, komunitas ini terbentuk tahun 2007, saat itu saya sempat terlibat dalam beberapa kegiatan mereka. Saya masih ingat waktu itu mereka belum memiliki tempat untuk kegiatan pembinaan intensif, sehingga saat itu mereka masih memanfaatkan masjid diponegoro (masjid kampus UNDIP Pleburan) sebagai tempat kegiatan pembianaan anak-anak jalanan binaan mereka. Mereka membina anak-anak jalanan tanpa imbalan ditengah kesibukan kuliah dan segala macam tete’ bengeknya, karena sebagian besar volunteer adalah mahasiswa, dari sini saya menaruh respect yang besar kepada mereka, seperti halnya kerja para volunteer dimanapun berada…membantu sesama bagi mereka adalah cita-cita, dan pengabdian adalah manifestasi cinta serta ketulusan berbagi yang asalnya dari hati. Jujur, Saya tidak bisa menyembunyikan rasa kagum dan respect yang setinggi-tingginya dengan kerja-kerja semacam ini, dan komunitas Satoe Atap adalah salah satunya, disaat sebagian besar orang lebih memilih menjaga jarak dengan anak-anak jalanan, mereka justru memilih hadir, hidup membaur dengan mereka, belajar bersama mereka, berbagi inspirasi serta mengajarkan ‘mimpi’ bersama-sama mereka dengan senang hati… bagi saya ini sesuatu yang luar biasa…meminjam istilah Forum Indonesia Muda (FIM), komunitas Satoe Atap adalah seberkas cahaya di tengah kegelapan negeri ini, dan para pegiatnya adalah kunang-kunang yang akan  menebar terang  kemanapun ia pergi. Semoga.. J

Saturday, November 23, 2013

AKU DAN BUKU

Kesukaanku dengan buku saat ini barangkali tidak lepas dari pengalaman masa laluku yang intim dengan benda kotak beruas-ruas ini. Aku masih ingat ketika awal perkenalanku dengan buku bacaan pertama kali, saat itu usiaku mungkin belum genap 5 tahun. Terus terang aku suka menceritakanya kepada orang-orang karena bagiku cerita ini terdengar dramatis, maklum, aku memang tipe melankolis,hehe…:D berawal dari ketidaksengajaan, ibuku seorang pedagang warung kelontong, kalo yang belum tau definisi warung kelontong, ini sejenis warung yang daganganya macam2, mulai dari bumbu dapur sampai jajanan “bodoh” untuk anak-anak. nahh…biasanya setiap hari ibuku membeli kertas “kiloan” di pasar untuk bungkus bumbu dapur dan dagangan2 lain itu ketika dijual. Kertas2 ini biasanya berupa Koran bekas, tabloid usang, sampai majalah-majalah yang tanggalnya kadaluarsa. Dan dari kertas2 inilah awal perkenalanku yang istimewa dengan majalah bobo, anda tau majalah ini?? Inilah buku bacaan (berbentuk majalah) pertama yang aku kenal, selain iQro’ tentunya… Majalahnya masih kelihatan bagus walaupun beberapa halaman sudah ada yang sobek, jangan tanya tanggalnya. Sudah pasti out of date...:D tapi waktu itu aku belum bisa membaca, aku hanya melihat gambar2nya saja, bagiku gambar-gambar itu sangat menarik. ingin sekali rasanya mengerti bagaimana cerita anak kecil bertopi panjang, kelinci putih yang tampak selalu riang, negeri yang berwarna-warni yang ada didalam buku dan seterusnya. alhasil, sejak saat itu, setiap ibuku membeli kertas kiloan selalu aku bajak duluan, berharap majalah serupa aku dapatkan. Mungkin ada sebagian orang bertanya, kenapa tidak minta dibelikan saja, susah amat…justru disinilah sisi dramatisnya, waktu kecil aku bukan tipe perengek orang tua, jika tidak ditawari lebih dulu jarang sekali aku meminta. jangankan minta dibelikan buku, jajan bakso sunduk yang saban hari lewat depan rumah saja jarang sekali aku memintanya. Oiyaa…fyi, sebelum masuk SD aku tidak pernah masuk TK, tapi sejak kecil, kecil sekali.. aku sudah belajar mengaji di pondok ngaji dekat rumah, mungkin kalo sekarang bisa disebut TPQ. Jadi jauh sebelum kenal aksara latin, aku lebih dulu mengenal aksara arab. Sebelum mahir membaca majalah bobo, aku sudah harus mahir membaca iQro’ dan juz ‘amma. Jadi belajar aksara latin di usia 5 tahun secara otodidak bagiku adalah sisi dramatis yang lain..... :D

Saat SD tak ada kesan istimewa antara aku dan buku. Keintiman kami yang dramatis pada awalnya pun agak sedikit berkurang kadarnya. Dirumah, aku lebih sering disuruh “nderes” (memperbaiki bacaan) alqur’an daripada membaca buku bacaan. (ibuku memang religious,hehe...:D) Lagipula dirumah pun tak ada buku lain selain buku tulis, buku menulis tegak bersambung dan buku gambar. Karena di sekolah, buku paket tidak boleh dipinjam. Baru ketika hampir kelas 6 hubunganku membaik dengan buku bacaan. Saat itu aku senang sekali membaca buku sejarah peradaban dunia, geografi negara2 di dunia sampai bacaan pegetahuan tentang bumi dan planet – planet yang aku pinjam diam-diam dari pamanku yang kelas 2 SMP. (sampai sekarang buku2 itu masih aku simpan, dan kadang aku baca2 ulang). Dan baru setelah SMP lah kegemaranku membaca (lumayan) terfasilitasi. Aku anggap terfasilitasi karena di SMP ku tersedia perpustakaan, walaupun bukunya tak banyak, Aku bisa membaca sepuasnya disana, bisa dipinjam pula. Hebat betul SMP ku ini pikirku, haha…(dasar anak kampung) :D

Buku favoritku masih seputar geografi, sejarah dan bumi & antariksa, Saat itu aku belum begitu mengenal dan tertarik dengan dunia sastra. Oiyaa…ada yang menarik, saat SMP inilah aku bertemu dengan salah satu species benda kotak beruas-ruas yang diberi nama oleh penemunya “(cara mudah) belajar membuat robot”. First sight, aku langsung jatuh cinta. Jadilah pada saat SMP dulu cita-citaku bulat – ingin menjadi scientist robotic – ini istilah yang aku buat sendiri untuk menamai ilmuwan pembuat robot... (ngarang)

Ayat-ayat cinta adalah novel pertama yang aku baca (sampai habis). Sebelumnya belum pernah ada buku2 sastra yang kuat aku baca sampai lembar terakhir. Inilah awal mula aku menyukai buku2 sastra. Awal SMA kelas 2 tepatnya. Agaknya aku harus berterimakasih kepada kang abik untuk yang satu ini. saat aku baca waktu itu, AAC belum begitu terkenal, oknum yang membuat aku terpaksa membaca novel ini adalah siswa berinisial SM, ketua organisasi kerohanian di sekolah. Novel ini memang berisi perjuangan, selain juga kisah cintanya yang dramatis. Emang dasar melankolis, dengan sedikit promosi ala prospector MLM gampang saja rekomendasi itu aku turuti. Tapi bukunya memang bagus, aku ingat sekali waktu itu aku cuma butuh 2 malam saja untuk khatam seluruhnya, sampai testimoni2nya juga,haha… Nahh…sejak saat itu aku mulai rajin membaca novel, semua karya kang abik habis aku nikmati. Semuanya tentu hasil dari meminjam. Keuntungan buatku karena aku cukup mengenal sindikat siswa2 galau di sekolah pemilik buku2 novel sejenis itu. Galau…aku sebut demikian karena mau dinamakan apa lagi mereka, jika baru kelas 2 SMA saja bahasannya sudah tentang istri sholehah, akhwat idaman umat atau menikah di usia muda, dan bacaanya, pudarnya pesona Cleopatra, cinta suci zahrana...ecetraaaaa!!!! itu galau bukan namanya…??haha.. :D setelah itu, aku mulai mengenal banyak jenis karya sastra, trilogy lord of the rings-nya J.R tolkiens adalah yang berikutnya, Dan brown, donny dhirgantoro, asma nadia, helvy tiana rossa, WS Rendra, chairil anwar mulai akrab karya-karyanya aku baca. Dari membaca inilah aku mulai menulis cerita, dari cerpen sampai novelet. Tapi setelah ku baca ulang ternyata jelek semua hasilnya. Akhirnya aku putuskan berhenti saja,hahaha…. :D

Saat kuliah, adalah puncak dari semuanya. walaupun jarang sekali membeli buku (karena faktor budget), agaknya fasilitas untuk membaca buku sudah sangat memanjakan para peminatnya. bicara soal fasilitas, dimana-mana banyak tersedia. Membaca gratis tinggal ke perpusda atau perpustakaan2 lainnya, disana buku banyak macamnya, dari novel sampai yang aneh2 isinya pun ada. intinya saat kuliah buku mudah sekali didapat. Fasilitas ebook pun bisa diakses gratis, tinggal cari wifi gratis bisa sedot sebanyak-banyaknya. Berbeda dengan waktu masih SMP atau SMA. Tapi justru semakin lengkap fasilitas, keintiman itu menjadi sedikit longgar, seperti perumpamaan lain sebuah hubungan, terlalu sering berjumpa pun kadang bisa memicu kerenggangan. Walaupun masih suka membaca tapi dari waktu ke waktu kadarnnya semakin menurun saja. Indeed…Semangat membaca kadang ada pasang surutnya juga.   

Beberapa bulan yang lalu aku diajak seorang teman untuk membantu inisiasi sebuah perpustakaan umum (mini) untuk para peminat buku. Konsepnya sederhana, orang2 yang punya buku dan sudah selesai membaca buku2nya bisa meminjamkannya kepada mereka yang suka membaca buku tapi tidak bisa membeli buku, Saling pinjam buku intinya. Buatku ini menarik. dan konsepnya sangat realistis. Ditambah lagi, aku memang menyukai buku dan dengan itu akupun bisa terfasilitasi. Kemudian aku beri saja masukan agar dibuat komunitas karena alasan pasang surut semangat yang aku jelaskan diatas, barangkali masalah itupun bisa ketemu jawabanya. Finally…baru beberapa minggu kemarin komunitas itu diresmikan. Terus terang aku menaruh apresiasi yang tinggi kepada mereka semua, pegiat-pegiat serta anggota-anggotanya. Aku ingat satu uraian data yang sempat di paparkan salah satu pegiat taman baca waktu peresmian komunitas tersebut bahwa tingkat membaca masyarakat kita sangat rendah ternyata. Angkanya 1:1000 atau dari 1000 orang manusia di negeri ini cuma satu yang baca buku. Agak kaget juga. Artinya adalah sebuah tanggung jawab moral tentunya untuk aku secara pribadi sebagai salah satu diantara mereka yang paling tidak lumayan suka membaca buku dan mengetahui data tersebut untuk ikut ambil bagian meningkatkan angka statistic yang mencemaskan itu. Siapapun tau membaca punya dampak yang besar. Bahkan ada ungkapan jika bangsa yang besar adalah bangsa yang penduduknya gemar membaca. Jadi jika penduduk negeri ini gemar membaca insya Allah bangsa kita ini akan jadi bangsa yang besar.  Ini juga salah satu alasan betapa respect dan tingginya apresiasiku untuk para pegiat2 itu, karena aku yakin betul tak banyak yang berfikir sampai jauh kesana…standing ovation for you all!!!

Akhirnya aku berharap, keintimanku dengan makhluk beruas-ruas ini tak akan pernah berlalu, bahkan semakin hangat dari waktu ke waktu. disamping semakin banyaknya anak-anak muda yang sadar betapa pentingnya budaya membaca ini ditingkatkan sampai pada generasi berikutnya, jadi paling tidak ada harapan bangsa ini bisa maju...mulai dari membaca buku :)   
Salam Pecinta Buku….!!!! 


Rumah Belajar Harapan Sahabat Tenggang (ikhlas berbagi untuk masa depan)

Rumbel Harapan Sahabat Tenggang adalah kegiatan sosial di bidang pendidikan dan pembinaan karakter anak yang diinisiasi oleh sekumpulan anak muda di semarang. Lokasi kami berada di dusun tenggang, kelurahan tambakrejo, kaligawe, semarang...

Lokasi dusun yang berada di pesisir membuat tempat ini akrab dengan bencana Rob, saking akrabnya kejadian yang kita anggap sebagai bencana ini sudah tidak lagi dianggap sebagai sebuah bencana oleh warga sekitar (harmony with disaster), padahal jika Rob datang, ketinggianya bisa mencapai lutut orang dewasa dan merendam sebagian besar rumah warga, bahkan menurut penuturan warga tiap beberapa tahun jalan dan rumah mereka harus ditinggikan jika tidak ingin terendam terus2an, sehingga jangan kaget jika saat berkunjung kesana anda akan banyak menjumpai rumah yang lantainya berada dibawah permukaan jalan. persoalan tidak sampai disitu, Rob yang datang pun biasanya satu paket dengan sampah, perilaku warga yang biasa membuang sampah seenaknya di bantaran sungai atau di belakang rumah2 mereka memberi konsekuensi kiriman sampah yang melimpah saat rob datang. jenis sampah ini beraneka ragam mulai dari sampah rumah tangga (plastik kaleng dkk) sampai "sampah" manusia produksi toilet2 portable yg tersebar di sepanjang sungai. dan yang mengkhawatirkan adalah jika rob datang atau saat sungai tenang anak-anak biasa berenang riang bersama-sama disana tanpa tau bahayanya.

Selain masalah Rob, terdapat masalah lain yang juga khas wilayah pesisir yakni masalah sosial dan pendidikan, utamanya untuk anak dan remaja. cukup banyak anak2 disana yang putus sekolah saat lulus SMP, alasannya beragam mulai dari tak ada biaya sampai karena memang tidak berminat sekolah. kondisi ini praktis memunculkan masalah sosial khas remaja akibat pergaulan yang tak terjaga, banyak remaja tanggung (usia SMP) yg sudah mengenal drugs dan kawan2nya, satu kejadian unik saat kami menanyakan perihal siapa idola mereka, beberapa anak menjawab kompak "genji" (tokoh dlm film crows zero), anda tentu tau bukan siapa orang ini, intinya secara tersirat kami menangkap bahwa kekerasan sudah menjadi bagian hidup mereka, faktor perhatian dan bimbingan dari orang tua yang kurang juga menjadi poin lainya....tentu ini mencemaskan. namun disisi yang berbeda ternyata ada harapan yang terpendam disana, menunggu untuk dimunculkan, tidak sedikit juga anak-anak yang memiliki semangat belajar tinggi dan kemauan untuk berprestasi. tapi mereka kurang terfasilitasi, mereka kurang akses pengetahuan dan bimbingan, dan mereka tidak memiliki lingkungan yang kondusif untuk menjaga semangat dan mimpi2nya. berangkat dari sana, Rumah belajar harapan sahabat tenggang mencoba untuk menjaga harapan2 itu tetap ada, kami berusaha memfasilitasi anak-anak tersebut suasana dan lingkungan yang baik, akses pengetahuan, pendidikan karakter (utamanya cinta lingkungan) serta menjaga semangat mereka terus ada...untuk mencapai tujuan2 tersebut ada beberapa kegiatan yang kami lakukan diantaranya, kegiatan rutin belajar bersama 2 kali dalam seminggu, membuat perpustakaan mini untuk anak2, kelas bakat dan konseling, serta kegiatan2 lain yang bersifat event setiap bulannya...dalam menjalankan kegiatan, kami dibantu oleh volunteer2 yang luar biasa sebagian besar dari mereka adalah mahasiswa sisanya adalah anak muda sekitar dusun, tak ada yang bisa kami ucapkan selain penghargaan yang sebesar2nya untuk mereka, ikhlas berbagi tanpa imbalan materi...salute!

Akhir kata sebenrnya tidak banyak yang bisa kami berikan untuk mereka, anak-anak dusun tenggang yang ceria, apa yang kami lakukan adalah bentuk sumbangsih yg tak seberapa dan mungkin kecil dampaknya, tapi kami percaya bahwa sekecil apapun harapan, ia harus tetap dijaga... ikhlas berbagi untuk masa depan!!!



Rumah Belajar Harapan Sahabat Tenggang
Sekretariat : Dusun tenggang Rt03 Rw01, kelurahan tambakrejo, kaligawe, Semarang (rumah pak sudiasto)
cp humas : Enra (085726062996) isti (085723544461)
FP facebook : Rumah Belajar Harapan "sahabat tenggang"
twitter : @sahabatpulauSMG
website : http://www.sahabatpulausemarang.com

Donasi : BNI  0301437347  an. Suwandi Bn Duladi 
*donasi bisa berupa uang, buku atau lainnya


Tuesday, August 20, 2013

Dengarkan Curhatku : Sekolah Harusnya Murah!!!

Saya ingat betul bagaimana perjuangan saya untuk bisa menikmati pendidikan sampai perguruan tinggi. orang tua harus banting tulang mati-matian untuk membayar ongkos sekolah yang untuk ukuran keluarga saya sangat mahal. Teman-teman saya di desa bahkan banyak yang tidak pernah berfikir tentang kuliah karena kuliah bagi mereka ibarat barang mewah yang tidak perlu susah-susah diperjuangkan karena memang untuk ukuran mereka tempatnya cuma ada diangan-angan, masalahnya bukan karena tidak faham arti penting pendidikan tapi lebih banyak karena ongkosnya yang membumbung diluar kemampuan.

Akhir-akhir ini saya mencoba mencari sekolah untuk adik saya, tentu saya mencari sekolah dengan kualitas baik dan murah, atau paling tidak bisa dijangkau oleh kemampuan ekonomi keluarga yang tak seberapa, hasilnya tak kunjung saya temui sekolah dengan kualitas baik yang ongkosnya bisa kami jangkau. Barangkali memang “makin mahal makin bermutu” sudah menjadi kredo dunia pendidikan saat ini, persis kredo rumah bordil!!. Dan tentu dengan kredo semacam itu ada diskriminasi yang tegas terhadap kalangan miskin, padahal jelas-jelas dalam konstitusi diamanatkan bahwa pendidikan adalah hak setiap warga Negara tanpa ada pembedaan status sosial. Kondisi ini diperparah lagi dengan Realitas dimana banyak juga sarjana yang ujung-ujungnya tak kebagian pekerjaan. sudah susah payah keluar uang untuk sekolah yang jumlahnya tidak sedikit ujung-ujungnya jadi pengangguran ini tentu sebuah kesalahan. Agaknya pendidikan yang mahal ini terjadi karena negara yang terlalu malas untuk mengambil peran, hasilnya kapitalisme pendidikan merajalela. Pendidikan pun menjadi komoditi para pengusaha dan penguasa. Akhirnya saya pun bisa memahami bahwa banyak persoalan negeri ini, soal korupsi, kenakalan remaja (yang sekarang sudah bertransformasi menjadi kejahatan remaja), kemiskinan, kriminalitas tak pernah lepas dari kontribusi dunia pendidikan yang kacau balau ini.

Mari kita coba telaah, kata kuncinya adalah kompetisi dan globalisasi, kini sekolah adalah tempat dimana ruang belajar bukan lagi ada pada guru. Belajar identik dengan perolehan kemampuan dan keterampilan. Seperti computer, bahasa asing dll. Muaranya adalah pada bagaimana para siswa dapat berkompetisi di era globalisasi. Dunia yang semakin menciut ini telah meletakkan badan setiap orang untuk bergesekan dan berlomba. Berebut posisi dan kedudukan kian membuat kebutuhan untuk menjadi unggul jadi sesuatu yang primer. Keunggulan itulah yang telah membuat sekolah seperti perusahaan catering. Menyiapkan macam-macam menu yang diorientasikan pada rasa enak dan kenyang. Sekolah tidak bangga karena murah biaya, tapi akan bertepuk dada karena fasilitas yang lengkap. Fasilitas itu bentuknya berupa gedung dan ruangan yang megah, hingga pengajar dari berbagai Negara, janjinya selalu saja serupa, akan lahir lulusan yang siap bertarung dalam iklim global.

Globalisasi ini memang membuat setiap orang dihinggapi rasa takut dan cemas, karenanya pengangguran telah membuat setiap lapis generasi harus siap untuk menjadi orang terbuang. Lembaga pendidikan pun akhirnya mengalami nasib yang tragis. Lembaga pendidikan berjalan dengan orientasi meraup laba sebesar-besarnya. Pendidikan kini harus mengubah strategi, dari upaya untuk pencerdasan menjadi unit bisnis untuk melahirkan produk sebanyak-banyaknya. Pendidikan saat ini berubah menjadi mesin industri. Mesin yang bekerja dengan logika efisiensi dan efektivitas. Dengan mempercepat waktu pembelajaran, pendidikan kemudian lebih mirip dengan proses pembuatan sabun, mengeluarkan dalam jumlah banyak tanpa perbedaan sama sekali. Swastanisasi ini lah yang menjadi biang keladi terutama ketika memasuki dunia pendidikan, ada kepentingan yang menyelinap dari kalangan pemodal utamanya ketika mendirikan sekolah, seperti sebuah pabrik sekolah akan menghasilkan makhuk yang namanya bermacam-macam, yang normal memang akan menghasilkan lulusan yang bisa berbuat apa saja, yang mengejutkan akan mengeluarkan anak didik yang memiliki kepedulian tinggi atas banyak masalah, tapi yang umum akan cetuskan pengangguran. Tapi mana peduli sekolah dengan lulusannya yang berkarir sebagai penganggur. Sekolah memang bukan monster yang haus akan uang, tapi yang benar sekolah memang terus menerus memerlukan biaya. Dari tahun ke tahun sekolah menaikkan ongkos dengan alasan yang bermacam-macam.

Begitulah dunia pembelajaran kemudian menjadi tempat yang mahal, pendidikan menjadi aktivitas yang sulit untuk diakses setiap orang. Tiap kali disusun usaha untuk melawan komersialisasi sekolah maka serangan balik muncul. Ada yang menganggap sekolah mahal itu memang syarat mutlak jikalau ingin maju. Disekeliling lingkungan pendidikan terbentuk anggapan bahwa mutu terdapat dalam mekanisme penyusunan materi dan bagaimana metodologi pengajaran disajikan. Makanya sejak dini anak diberi beban yang menakjubkan, beban itu bukan hanya berbentuk pelajaran melainkan juga uang iuran yang beraneka ragam. Sekolah harusnya murah, agar terjangkau setiap warga Negara, karena memang itu hak yang harus di tunaikan Negara sebagai bagian dari kontrak sosial yang dibuat dalam bentuk konstitusi.


Sekolah harusnya murah tuan
Agar kami yang ingin pintar tak harus kepayahan
Lebih buruk, kami ambruk sebelum sampai tujuan
Sekolah harusnya murah tuan
Karena mendidik kami yg miskin adalah kewajiban, 
itu tujuan Negara didirikan, 
yang bapak2 pendiri bangsa ini inginkan…
Negara berdaulat juga bermartabat, oleh karenanya kami harus pintar tuan…

Wednesday, November 14, 2012

Ketika Cinta Datang Menghujam, Produktivitas Meningkat Tajam


Cinta…kita bicara soal cinta sekarang…oke, apa definisi cinta saudara-saudara? Ada yang tau? Haha…Menurut sumber dari internet yang baru saja saya dapat Cinta adalah sebuah emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi terhadap objek tertentu. kira-kira seperti itu, Sebenarnya banyak definisi lain…tapi terlalu panjang kalo saya sebutkan satu-satu. Bukan untuk itu maksud tulisan ini dibuat…lagipula banyak dari kita yang mengatakan bahwa cinta adalah perasaan yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata,  hanya hati yang bisa menerjemahkannya..asiiikkk :D, jadi percuma saja saya gambarkan cinta dengan banyak kata, lebih baik serahkan saja pada masing-masing hati manusia untuk menerjemahkannya sendiri. Betul begitu?? Apapun definisinya, yang jelas semua akan sependapat dengan saya jika cinta punya efek yang luar biasa, saat ia ditempatkan pada posisi dan porsi yang tepat…that’s goin’ to be an awesome effect, seseorang akan menjadi sangat produktif….ketika cinta datang menghujam, produktivitas meningkat tajam, dan itu terjadi pada diri saya…hehe

Ini adalah hasil penelitian yang saya lakukan dengan pendekatan historis, sampelnya adalah saya sendiri :D...taukah kalian? ternyata ada korelasi yang positif antara cinta dengan produktivitas, saya menjadi begitu produktif ketika mencintai sesuatu hal, itu yang terjadi…ketika saya SD contohnya, saya suka sekali menggambar…dan dari kecintaan saya itu saya bisa menghasilkan gambar-gambar yang indah, (ala anak SD tentunya :D) dan bahkan berani membuka jasa menggambar untuk teman2 yang lain saat ada PR menggambar dari ibu dan bapak guru, waktu itu gambar andalan saya adalah gambar pemandangan dengan gunung sebagai latar utama, pesawahan sebagai bumbunya dan realitas para petani sebagai sentuhan dramatisnya, (padahal waktu SD gk mikir segitunya) haha.. :D, dan satu lagi gambar andalan saya saudara-saudara, tokoh kartun kesayangan yang selalu  ditunggu kehadirannya setiap minggu walaupun cuma tayang di tipi setengah jam tiap minggunya (menjengkelkan…), dia adalah GOKU…yeaahhh!!! Saya yakin banyak dari kalian yang juga mengidolakan jagoan serial kartun dragonball ini…J, saat itu produktivitas menggambar saya tinggi sekali, hal tersebut terjadi tidak lain karena cinta…karena saya begitu cinta dengan aktivitas menggambar saat itu…

Ada lagi, saat SMP saya mulai menyukai sepakbola, sebenarnya suka dari SD tapi saat SMP lah rasa suka itu berubah menjadi cinta..(ihiiirrr…:D). karena kecintaan saya itu, saya rajin sekali berlatih…saya ingat sekali jaman2 itu masih ada acara tutorial bermain sepakbola di TVRI, setiap minggu jam 10.30…dan saya adalah salah satu penggemar setiannya (jaman itu internet belum ngetrend gan… :D) selesai menonton langsung saya praktekan di lapangan “jadi-jadian” di depan rumah, selain itu saya juga berlatih di SSB “burem” di kampung (ya walaupun burem tetep SSB namanya, haha…), dan dalam kurun beberapa minggu pernah juga bergabung dengan SSB yang katanya bagian dari akademi salah satu klub sepakbola ternama negeri ini. Segala upaya saya lakukan untuk mengasah kemampuan bermain sepakbola saya, itu tak lain karena ada cinta disana…hasilnya saat SMP saya terpilih menjadi bagian dari tim sekolah untuk ikut ambil bagian dalam pekan olahraga pelajar tingkat kabupaten atau POPDA tingkat SMP, walaupun akhirnya kandas, haha…hingga SMA saya masih menjadi tumpuan tim sepakbola sekolah, ikut di berbagai turnamen mewakili sekolah…walaupun belum pernah juara, #uppss :D, dan bersama teman-teman turut membangun smandaraya (ekskul sepakbola di SMA) bangkit dari kevakuman waktu itu…saya harus bilang sekali lagi bahwa itu karena cinta saudara-saudara. produktivitas meningkat luar biasa…

Oiya… saat kelas 2 SMA, saya jatuh cinta dengan ilmu hitung debit kredit dari negeri ratu Elizabeth bernama akuntansi. Tidak perlu saya jelaskan kenapa saya jatuh cinta, (bukan karena mau gebet orang lho, cintanya beneran tulus dari hati tanpa tedeng alih-alih.. :D) yang jelas dari kecintaan itu saya kemudian terpilih menjadi kontingen sekolah untuk ikut dalam berbagai ajang perlombaan termasuk olimpiade…terhitung sudah sekian trofi saya persembahkan untuk sekolah, yang tertinggi adalah saat menjuarai lomba akuntansi se-jabar dan banten di UPI bandung. Lagi-lagi karena apa??yappp…betul sekali, karena cinta saudara-saudara!! Kemudian produktivitas menulis saya juga meningkat tajam saat SMA, saat kecintaan saya terhadap aktivitas menulis sedang berada di level kurva tertinggi…puluhan cerpen (ala remaja ababil :D) berhasil saya hasilkan, puluhan puisi juga banyak sekali saya buat…bahkan sempat saya buat antologinya. Novelet pun sempat saya buat walaupun tidak selesai karena setelah saya baca ulang ternyata ceritanya “nggak bangettt”, hahaha…the point is..Semua bisa saya lakukan karena saya cinta dengan aktivitas2 itu…

Itu adalah sedikit bukti2 empiris yang saya himpun untuk mendukung hasil temuan saya bahwa cinta punya hubungan yang positif terhadap produktivitas, jadi produktivitas akan meningkat ketika cinta tumbuh menghiasi aktivitas yang kita lakukan. Sebenarnya masih banyak bukti-bukti yang lain…tapi berhubung batere laptop hampir habis, dicukupkan saja :D. saudara-saudaraku yang budiman…akhirnya saya harus menyimpulkan bahwa apapun aktivitas kalian, apapun pekerjaan kalian, apapun amanah kalian, atau siapapun gebetan kalian… (lhooooo….:D) landasilah dengan kecintaan…cinta yang tulus dari lubuk hati yang terdalam, karena dengan begitu, akan muncul energi potensial tersembunyi dalam diri kalian untuk mendorong kalian menjadi produktif. Produktif tingkat tinggi…sedangkan untuk saya pribadi ini masih menjadi PR yang kontinyu…karena memang kadang konsistensi sulit sekali di patri dalam diri. maka dari itu…mari sama-sama belajar untuk menjadi seorang pecinta yang produktif…asiiiikkk :D
Ketika cinta datang menghujam, produktivitas meningkat tajam !!!!

Friday, July 6, 2012

Saat Mozaik Mimpi itu Mulai Terajut...


SMP menjelang ujian nasional adalah saat dimana kurva semangatku berada pada posisinya yang tertinggi, Aku begitu menggebu-gebu dengan rancangan hidupku, beberapa minggu menjelang ujian aku menjadi kutu buku dadakan, kutu soal-soal ujian lebih tepatnya, karena hampir setiap harinya aku tidak pernah lepas dari kertas-kertas soal ujian nasional, unbelievable bin fantastis menurut ukuranku...melihat keseharianku sebelum itu yang tidak pernah bersinggungan dengan aktivitas belajar. barangkali inilah efek positif dari sebuah obsesi kawan. Semangat membara laksana ksatria di medan laga, :D ... Silakan dicoba!!! Target yang ku bidik waktu itu adalah dua SMA negeri terbaik di kotaku, bersama sahabat terbaikku, kami bertekad untuk menunjukan kepada sekolah bahwa kami bisa lebih dari siswa lainnya di sekolah jika kami punya niat, ya…punya niat, karena menurut hipotesa sahabatku selama ini kami hanya kurang niat, semuanya tidak niat serba setengah-setengah.
Karena setengah-setengah tadi aku termasuk siswa yang tidak masuk kategori pintar dan tidak juga masuk kategori bodoh, ya…standar-standar saja lah, kelas 1 aku masuk 5 besar,awal yang lumayan baik. .tapi semakin lama semakin menurun saja prestasiku, mungkin buah dari kenakalanku waktu itu. hingga kelas 3 semester 1 aku sudah terlempar dari garda depan kelasku, begitupun sahabatku.
Baiklah kawan, akhirnya harus aku kenalkan teman seperjuanganku waktu itu, Teguh Imam Burhanudin namanya, the cool guy. . . manusia unpredictable yang selalu mengejutkan pada saat yang tidak di duga-duga. Dia termasuk Anak yang cerdas menurutku hanya saja dia belum menyadari kemampuanya secara maksimal pada waktu itu. Undetected talent... Dari kelas 1 sampai kelas 3 kami selalu satu kelas, prestasi belajarnya di kelas juga tidak jauh berbeda dengan prestasiku, dia sempat berada di garda depan di awal namun terlempar pula di akhir. dan menjelang ujian akhir kami sepakat untuk menunjukkan kepada sekolah bahwa kami layak di perhitungkan, kami akan jadi nomor satu di sekolah…jeng-jeng-jeng menggebu-gebu bukan main. tidak Cuma itu, Semangat kami semakin memuncak setelah mendengar kabar bahwa siswa dengan predikat lulusan terbaik akan mendapat seperangkat computer dari sekolah, menggiurkan sekali untuk kami. namun aku yakin itu tidak akan mudah karena masih ada beberapa siswa pandai di kelasku yang harus ku taklukan. Siswa-siswa langganan garda depan dari awal hingga akhir. Ya…Jika pada waktu itu ada bursa taruhan jelas kami sama sekali tidak masuk hitungan.
Detik-detik ujian nasional SMP, dengan semangat membara di dada, aku melangkah dengan pasti, padahal jauh sebelum itu mendengar namanya saja yang terbayang di kepalaku adalah mahluk mengerikan berbentuk kertas yang siap mencabik-cabik masa depanku, bayang-bayang tidak lulus selalu muncul di kepalaku. barangkali inilah kekuatan magis dari sebuah obsesi menggebu-gebu yang merasuk dalam hingga ke ujung semangatku. 3 hari ku lalui dengan optimisme tinggi. Keraguan bisa mencapai prestasi tertinggi seperti yang ku canangkan di depan masih tetap muncul karena sainganku memang luar biasa berat untuk ukuranku waktu itu, Begitu pula sahabatku. “kita sudah berjuang maksimal kawan, tak usah terlalu di fikirkan, kita lihat nanti hasilnya”.
Rumor-rumor menyeruak di seantero sekolah mengenai siapa yang tidak lulus dan siapa yang mendapat predikat lulusan terbaik jauh sebelum pengumuman hasil ujian nasional di terbitkan secara resmi, diam-diam aku mulai khawatir, jangan-jangan aku adalah salah satu dari mereka yang tidak lulus, namun perasaan optimis ku lantas memberontak, “tidak mungkin aku gagal, mustahil, aku sudah mengerjakan soal ujian dengan sangat baik. Optimis. .harus optimis!!!”, belum juga perasaan optimis itu mengendap bisikan lain kembali manghajar logikaku, “bisa saja itu terjadi, barangkali pada saat mengerjakan bulatan-bulatan yang ada di lembar jawabanku banyak yang belepotan, meluber kemana-mana dan tidak bisa di baca komputer, bukan jawabanku yang salah tapi bulatan-bulatan itu yang bermasalah dan secara otomatis aku kehilangan poin, dan kemungkinan tidak lulus pun masih sangat besar”, beragam spekulasi muncul begitu saja dari kepalaku,dan pada akhirya saat itu aku banting kemudi targetku bukan lagi menjadi lulusan terbaik disekolah, tapi hanya sekedar lulus ujian nasional. Drastis!!!
Menjelang pengumuman ujian nasional aku dan sahabatku sudah mulai survey SMA yang akan kami bidik, di depan sebuah SMA negeri di pusat kota, temanku diam-diam berujar, “ini sekolah kita berikutnya kawan”, nada percaya diri yang luar biasa dari sahabatku. Percaya diri bahwa hasil ujian yang akan di umumkan nanti akan sebaik yang diharapkan, sementara aku masih saja terjerat pesimistis frontal tak beralasan yang kian menggerogoti logikaku diam-diam. Aku tengok grade minimal untuk masuk SMA negeri itu, owh. . .nyaliku semakin ciut kawan, grade minimal yang di syaratkan terlalu besar buatku, Apa aku bisa melewati itu??di tambah lagi biaya yang harus dikeluarkan untuk mendaftar ke sekolah itu tergolong mahal untuk ukuran keluargaku yang pas-pasan. Perasaan Pesimisku semakin menari-nari di atas kepalaku.
Hari pengumuman ujian nasional pun akhirnya tiba, betapa bahagianya aku, ternyata aku bukan termasuk barisan berpredikat “gagal”, mendengar hal itu sudah membuatku sangat puas, tidak lagi terfikir di kepalaku untuk menjadi lulusan terbaik . bagiku target utama sudah tercapai. Itu cukup baik untukku.
Sampai akhirnya hari dimana pengumuman itu di bacakan, teman-temanku memberi ucapan selamat untukku, aku masih belum mengerti selamat untuk apa yang mereka sampaikan. . .dan setelah ku sadari ternyata, “I’m the best graduated”. unpredictable. . .inilah pencapaian terbaikku, prestasi tertinggi yang pernah ku raih, walaupun waktu SD dulu aku pernah mendapat juara 2 lomba MTQ tingkat kecamatan tapi bagiku mendapat sebuah computer adalah prestasi terbesarku, karena pada saat menjadi juara MTQ dulu aku hanya mendapat selembar piagam dan bingkisan sebagai kenang-kenangan. Excellent. . .moment itu menjadi pemantik semangatku untuk kembali survive di jalur hidupku.
Dus, nilaiku akhirnya cukup untuk mendaftar di sekolah yang ku bidik bersama sahabatku, oiya kawan. . .aku hampir lupa, Teguh Imam Burhanudin akhirnya duduk mengekor di belakangku , dia menyabet 3 besar, tidak terlalu buruk. Dari hal itu Aku sama sekali tidak menganggap bahwa aku lebih pandai dari teman-temanku, hanya masalah dewi fortuna, ya.. .bagiku, aku hanya sedikit lebih beruntung dari mereka dan finish di urutan pertama, sejatinya dalam banyak hal aku masih kalah dari mereka. Yang pasti satu pelajaran berharga untukku adalah bahwa kepintaran seseorang tidak lebih hebat dari semangat dan kerja keras kawan. Itu intinya.
Dan akhirnya aku masuk salah satu sekolah terbaik di kotaku, sekolah yang memperkenalkanku dengan beragam karakter manusia, sekolah yang mempertemukanku dengan teman-teman yang luar biasa, sekolah yang akan membuka mataku akan realitas ilmu pengetahuan. . .SMA Negeri 2 Cirebon.

bersambung . . . .

Thursday, July 5, 2012

When I Started to Learn Dreaming...!!!


Kawan, aku ingin sedikit bercerita mengenai bagaimana aku bisa berada disini, menjadi salah satu bagian dari kelompok masyarakat “pandai” di negeri ini, menjadi intelektual muda harapan bangsa, menjadi mahasiswa, excellent…begitulah kira-kira jika melihat posisi mahasiswa dalam stratifikasi social di masyarakat, menjadi harapan keluarga juga tentunya karena aku adalah anak pertama yang harus mengemban misi menebar nama baik keluarga, konsekuensi logis karena aku lah generasi pertama dalam sejarah keluarga yang mengenyam pendidikan sampai perguruan tinggi.
Mahasiswa, ah…nama itu begitu keren terdengar saat aku masih duduk di bangku sekolah dulu, nama yang menggambarkan kecemerlangan pemikiran, nama yang begitu ingin ku sandang. Cita-cita itu mulai terbersit dalam pikiranku saat aku kelas 1 SMP, cita-cita yang berani dari seorang anak desa yang lahir dari keluarga yang sama sekali tidak punya basic pendidikan tinggi, tapi obsesi manisnya ilmu pengetahuan menjadi motivasi yang tiada henti memompa semangat tanpa henti.
keluargaku bukanlah keluarga yang berlimpah materi. Kami hidup dengan sangat sederhana dari penghasilan pas-pasan ayahku sebagai seorang reparator perahu kapal di salah satu pelabuhan di Jakarta. Sedangkan ibuku hanya membuka warung sederhana di rumah nenekku yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumahku. Ketika usia SD hingga SMP, ekonomi keluargaku memang belum terlalu sulit karena kebutuhan hidup yang harus di penuhi belum terlalu banyak, kami hidup berkecukupan...tapi kadang-kadang jika pekerjaan ayahku sedang sepi, ibuku harus pinjam sana sini untuk menutup kebutuhan sehari-hari, inilah resiko dari pekerjaan ayahku yang penghasilanya tidak menentu tiap bulanya. Jika sedang baik peghasilanya bisa melebihi gaji pegawai negeri tapi jika sedang sepi untuk makan saja kami harus pinjam sana-sini. Tapi ibuku adalah seorang perencana keuangan keluarga yang sangat brilliant, cerdas bukan kepalang. melihat kondisi seperti itu ibuku merancang strategi keuangan dengan memilah pendapatan ke dalam tiga kategori pengeluaran. konsumsi 70%, investasi 10% dan cadangan sebagai biaya tak terduga 20%, teori yang mungkin hampir sama dengan petuah bijak para consultant keuangan rumah tangga berbandrol mahal yang banyak beredar saat ini atau ilmu perencanaan keuangan yang diajarkan di universitas. walaupun sebenarnya ilmu itu tidak pernah beliau dapatkan dari bangku sekolah, ibuku hanya tamat SD. tidak ada kesempatan untuk beliau melanjutkan sekolah satinggi-tingginya karena tidak ada biaya, tapi sejatinya ibuku adalah wanita tangguh nan cerdas gemilang. “Pengalaman dan naluri seorang ibu rumah tangga”, itu katanya. Dari situ ibuku bisa menabung untuk sekolahku sampai SMA, investasi pendidikan. Begitulah kawan sedikit gambaran tentang keluargaku. Keluarga unik kombinasi dua manusia luar biasa yang selalu ku kagumi, moderatnya ibuku dengan konservatifnya ayahku, tegas dan kerasnya ayahku bersanding dengan lembut dan penyabarnya ibuku, religiusnya ibuku dengan tradisional minded ayahku, semuannya menjadi satu kombinasi yang unik dan saling melengkapi, dua pribadi yang sangat ku hormati sekaligus ku kagumi, itulah mereka.
Kini akan ku ceritakan saat aku mulai belajar bermimpi, merancang peta hidup yang akan menjadi motivasiku sampai saat ini. Ketahuilah kawan, Aku mulai merancang peta hidupku ketika menjelang masuk SMA, ya. . .ketika itu aku berani merancang peta hidupku mungkin sampai tingkat terlalu berani, muluk dan hampir tidak realistis. obsesif kompulsif atau apalah namanya yang jelas pada waktu itu aku benar-benar terbius oleh candu ilmu pengetahuan, candunya para ilmuwan, candu berefek positif yang hebat bukan main. Sedikit narsis, aku merasa sejak SD aku mempunyai perbedaan dengan teman-temanku dirumah berkaitan dengan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan, saat kecil aku senang sekali membaca, betapa senangnya aku ketika menemukan pengetahuan-pengetahuan baru dari sebuah buku. bahkan aku sudah bisa membaca dan menulis namaku sendiri jauh sebelum aku masuk bangku sekolah. Itulah mungkin yang membuatku selalu mendapat peringkat pertama di kelas dari kelas 1 sampai ujung kelas enam, pole position selalu bisa ku raih, puncak klasemen. Hebat bukan main.
Lulus SMP, aku bidik salah satu SMA terbaik di kotaku. Setelah itu aku akan melanjutkan studiku ke salah satu universitas terbaik di Indonesia, aku list nama-nama univesitas yang akan aku tembak pada waktunya. tapi taukah kau kawan, ternyata tempat kuliahku sekarang tidak pernah masuk daftarku waktu itu, namun itu tidak terlalu buruk bagiku karena tempat kuliahku sekarang juga termasuk salah satu universitas terbaik di indonesia. jangan pernah sedikitpun menyesal itu yang terpatri kuat dalam diriku karena pada intinya dimanapun aku berada saat ini yang terpenting adalah rancangan hidupku tetap pada jalur nya. Dan Yang membuat rancangan hidupku menjadi terlalu berani dan sedikit imajiner adalah setelah lulus kuliah aku akan melanjutkan studiku keluar negeri , Jerman. . .itulah tempat impianku waktu itu karena memang pada saat itu aku ingin sekali menjadi seorang ilmuwan, scientist robotic. .keren sekali, nama yang aku karang sendiri untuk menyebut ilmuwan perancang robot entah ada atau tidak nama itu, aku tidak peduli. Dan Jerman adalah tempat yang paling tepat untuk mewujudkan itu. Dan taukah kau kawan cita-cita itu akhirnya berbelok 180 derajat saat aku SMA, saat aku mengenal teori realitas secara lebih jauh yang membuatku mulai berfikir realistis atas impian-impianku. Realitas yang membuka mataku, yang menyadarkanku bahwa aku tidak sepandai seperti yang aku bayangkan. Bahwa realitas diluar sana tidak semudah seperti yang ku bayangkan , akan banyak rintangan menghadang. Aku menjadi orang yang begitu rendah diri, “minderan” dan tidak percaya diri. Kadang-kadang semakin kita berfikir realistis semakin besar pula peluang kita untuk menjadi lemah. Itulah yang ku alami.

bersambung . . . .