Saturday, March 19, 2016
Tuesday, March 5, 2013
Daftar Peraih Ballon d'Or Sepanjang Sejarah
- 1956: Stanley Matthews/Blackpool
- 1957: Alfredo Di Stéfano/Real Madrid
- 1958: Raymond Kopa/Real Madrid
- 1959: Alfredo Di Stéfano/Real Madrid
- 1960: Luis Suárez/Barcelona
- 1961: Omar SÃvori/Juventus
- 1962: Josef Masopust/Dukla Prague
- 1963: Lev Yashin/Dynamo Moscow
- 1964: Denis Law/Manchester United
- 1965: Eusébio/Benfica
- 1966: Bobby Charlton/Manchester United
- 1967: Flórián Albert/Ferencváros
- 1968: George Best/Manchester United
- 1969: Gianni Rivera/Milan
- 1970: Gerd Müller/Bayern Munich
- 1971: Johan Cruyff/Ajax
- 1972: Franz Beckenbauer/Bayern Munich
- 1973: Johan Cruyff/Barcelona
- 1974: Johan Cruyff/Barcelona
- 1975: Oleg Blokhin/Union Dynamo Kyiv
- 1976: Franz Beckenbauer/Bayern Munich
- 1977: Allan Simonsen/Borussia Mönchengladbach
- 1978: Kevin Keegan/Hamburg
- 1979: Kevin Keegan/Hamburg
- 1980: Karl-Heinz Rummenigge/Bayern Munich
- 1981: Karl-Heinz Rummenigge/Bayern Munich
- 1982: Paolo Rossi/Juventus
- 1983: Michel Platini/Juventus
- 1984: Michel Platini/Juventus
- 1985: Michel Platini/Juventus
- 1986: Igor Belanov/Dynamo Kyiv
- 1987: Ruud Gullit/Milan
- 1988: Marco van Basten/Milan
- 1989: Marco van Basten/Milan
- 1990: Lothar Matthäus/Internazionale Milan
- 1991: Jean-Pierre Papin/Marseille
- 1992: Marco van Basten/Milan
- 1993: Roberto Baggio/Juventus
- 1994: Hristo Stoichkov/Barcelona
- 1995: George Weah/Milan
- 1996: Matthias Sammer/Borussia Dortmund
- 1997: Ronaldo/Internazionale Milan
- 1998: Zinedine Zidane/Juventus
- 1999: Rivaldo/Barcelona
- 2000: LuÃs Figo/Real Madrid
- 2001: Michael Owen/Liverpool
- 2002: Ronaldo/Real Madrid
- 2003: Pavel Nedved/Juventus
- 2004: Andriy Shevchenko/Milan
- 2005: Ronaldinho/Barcelona
- 2006: Fabio Cannavaro/Real Madrid
- 2007: Kaká/Milan
- 2008: Cristiano Ronaldo/Manchester United
- 2009: Lionel Messi/Barcelona
- 2010: Lionel Messi/Barcelona
- 2011: Lionel Messi/Barcelona
- 2012: Lionel Messi/Barcelona
Friday, July 27, 2012
Misteri Pasir Pemangsa Atau Pasir Hisap

Pasir hidup adalah mekanisme paling unik alam semesta, ia mungkin terpendam di pantai tepi sungai atau bahkan mungkin di halaman belakang sekitarnya, dengan tenang menunggu orang-orang mendekat, membuat orang sulit maju ataupun mundur. Pada tahun 1692, di pelabuhan Jamaika, pernah terjadi pasir hidup yang terbentuk dari larutan tanah akibat gempa, belakangan menyebabkan 1/3 kota hilang, dan tragedi yang menewaskan 2000 jiwa manusia. Danau yang tampak tenang di selatan Inggris, fyord atau teluk sempit di Alaska yang indah tapi berbahaya dan daerah lainnya pernah terjadi peristiwa manusia terperangkap ke dalam pasir hidup.
Namun, sebagian besar orang kerap tidak pernah menjumpai pasir hidup, apalagi menyaksikan sendiri orang terperosok ke dalam pasir hidup atau mengalaminya sendiri. Kesan orang-orang terhadap pasir hidup terutama berdasarkan berbagai film yang ditontonnya. Suasana atau pemandangan yang diciptakan dalam film melukiskan pasir hidup adalah suatu momok yang dapat menghisap manusia ke lubang tak berdasar.
Seorang ilmuwan dari Universitas Amsterdam, Belanda yakni Daniel Bonn pernah menemui seorang gembala setempat. Sang gembala menunjuk pasir hisap sambil berkata pada Bonn, bahwa pernah ada unta terperosok ke dalam kemudian lenyap tak berbekas.
Lalu segera ia melakukan penyelidikan terkait setelah kembai ke negaranya. Ia membawa sampel pasir ke Belanda dan menganalisis komposisinya. Setelah menemukan bahwa campuran tersebut terdiri atas pasir berkualitas tinggi, tanah liat, dan air garam, Bonn bersama timnya membuat tiruan pasir hisap dalam jumlah besar.
Ia mengamati dan menganalisa dengan cermat puluhan film yang melukiskan pemandangan pasir hisap yang menelan manusia itu, dan mendapati bahwa gambaran yang dilukiskan film-film ini sepenuhnya salah dan keliru. Kemudian, di dalam laboratoriumnya, Bonn mencampurkan pasir, tanah liat dan air garam, membentuk sebuah maket pasir hidup dalam ruangan kecil untuk diteliti. Setelah percobaan secara berulang-ulang, personel peneliti yang dipimpin Bonn mendapati, bahwa perlu waktu beberapa hari untuk membuat pasir menjadi lengket.
Sebaliknya sangat mudah kalau hendak menghilangkan viskositasnya (sifat merekat), yakni cukup diberi tekanan yang pas di permukaannya. Permukaannya akan segera “larut” dengan cepat jika mendapat gangguan gerak, pasir di permukaan akan menjadi gembur (lembek), dan pasir di lapisan yang dangkal juga akan merosot ke bawah dengan cepat.
Gerakan perpindahan ini membuat benda yang bergerak di permukaan pasir tenggelam ke bawah, kemudian seiring dengan meningkatnya kedalaman penenggelaman tersebut, pasir yang jatuh ke bawah melalui gerakan perpindahan dari lapisan atas perlahan-lahan akan menyatu, lalu akan menciptakan endapan yang tebal, sehingga viskositas atau sifat merekat pasir bertambah cepat, mencegah obyek terperosok lebih jauh.
Butuh Kekuatan Mengangkat Sebuah Mobil
Menurut hasil penelitian, bahwa orang yang terperosok ke dalam pasir hisap umumnya tidak bisa bergerak, densitas pasir yang meningkat kemudian merekat di bagian anggota badan bawah yang terperosok dalam pasir hisap tersebut, membentuk tekanan yang sangat besas pada tubuh, membuat kita sangat sulit mengeluarkan tenaga.
Orang yang sangat besar tenaganya sekalipun juga sulit dalam waktu singkat bisa mengeluarkan korban yang terperangkap dalam pasir hisap tersebut. Setelah di kalkulasi peneliti terkait, bahwa untuk mengeluarkan satu kaki korban yang terperangkap dengan kecepatan 1 cm/ detik saja butuh kekuatan 100 ribu Newton, atau kurang lebih setara dengan kekuatan mengangkat sebuah mobil ukuran sedang.
Kecuali dibantu dengan mobil Derek, jika tidak sulit sekali mengeluarkan korban yang terperangkap dalam pasir hisap tersebut dalam waktu singkat. Hasil penelitian terkait juga menunjukan, menurut hitungan kekuatan ini, jika secara paksa menyeret korban, maka sebelum pasir hisap “melepaskan” korban yang terperangkap, tubuh korban sudah putus tertarik oleh kekuatan yang besar itu.
Resiko yang diakibatkan tindakan demikian jauh lebih berbahaya dibanding membiarkan korban tetap berada dalam pasir hisap tersebut untuk sementara waktu.

Bagaimana Menyelamatkan Diri Dari Perangkap
Sebenarnya sebagian besar pasir hisap tidak jauh berbeda dengan pasir pada umumnya, tidak menyeramkan sebagaimana yang dilukiskan dalam film. Secara prinsipal, ia hanya pasir yang telah diresapi air, karena friksi (gaya gesek) antar butiran pasir berkurang, sehingga menjadi campuran pasir dan air setengah cair yang sulit mendukung. Pasir hidup biasanya dijumpai di sekitar pantai.
Menurut Benn, bahwa hanya ada satu keadaan pasir hisap dapat menenggelamkan manusia (mati tenggelam), yaitu ketika bagian kepala lebih dulu masuk ke dalam, namun kemungkinan terperosok dengan cara demikian sangat kecil. Orang yang terperosok ke dalam pasir hisap hanya merasakan sedikit tekanan pada bagian dada, agak sulit bernapas, tidak akan mengancam jiwa. Air pasang di dekat pasir hidup barulah musuh yang menakutkan bagi korban yang terperangkap.
Orang-orang keliru menafsirkan bahwa dengan menggoyangkan kaki bisa melonggarkan pasir di sekitar badan, sehingga dengan demikian dapat membantu anggota badan untuk keluar dari dalam pasir. Ilmuwan terkait menuturkan, sebetulnya bukan begitu, gerakan demikian hanya akan mempercepat endapan tanah liat, memperkuat viskositas (sifat merekat) pasir hisap, meronta membabi buta hanya akan membuat korban terperosok lebih dalam.
Benn mengatakan, “cara untuk terlepas dari pasir hisap tetap ada, yaitu korban yang terperangkap harus menggerakkan secara perlahan kedua kakinya, agar air dan pasir semaksimal merembes masuk ke daerah hampa, dengan begitu akan dapat mengurangi tekanan badan si korban, sekaligus membuat pasir agar perlahan-lahan menggembur.
Selain itu, sang korban juga harus berusaha agar anggota badannya terpisah, sebab jika area permukaan pasir yang disentuh badan semakin besar, maka daya apung yang didapat akan semakin besar. Asalkan korban memiliki kesabaran yang cukup, dengan gerakan yang cukup tenang dan santai, maka secara perlahan pasti akan terbebas dari perangkap pasir hisap.
Selain itu hasil penelitian juga mendapati, saat suatu obyek terperosok ke dalam pasir hisap, kecepatan terbenamnya ditentukan oleh densitas obyek tersebut. Densitas pasir hidup umumnya 2 g/milliliter, sedangkan densitas manusia adalah 1g/milliliter. Di bawah densitas demikian, tubuh manusia yang terbenam ke pasir hidup tidak akan mati tenggelam, kerap akan berhenti sampai sebatas pinggang.
Selain itu peneliti juga mendapati, bahwa meskipun sejumlah obyek yang berdensitas lebih besar dari pasir hidup, tapi tetap bisa mengapung di atas pasir hidup. Dalam percobaan terkait, mereka kemudian meletakkan bola aluminium yang berdensitas 2.7g/mililiter di atas permukaan pasir hisap.
Dan meskipun densitasnya lebih besar dari pasir hidup. Namun karena mendapat pengaruh daya apung pasir hisap dan tegangan pasir, maka bola aluminium tetap bisa dengan tenang berada di permukaan pasir hidup. Bola tersebut tidak tenggelam hingga para peneliti menggetarkan pasir hisap dan membuat gerakan yang menyebabkan campuran lebih cair. Ketika melakukan hal ini, bola aluminium benar-benar seluruhnya tenggelam.
Namun saat menggunakan bola aluminium yang memiliki kerapatan sama dengan manusia yang berarti lebih rendah daripada kerapatan pasir hisap, bola tersebut tidak pernah tenggelam walaupun campuran diperlakukan dengan kasar.
Jatuhnya objek ke pasir hisap menyebabkan pastikel pasir bercampur air kehilangan kestabilan. Jika terus diberi tekanan, campuran tersebut akan berubah menjadi lebih cair di permukaan dan sangat padat di dasarnya.
“Semakin besar tekanannya, semakin banyak cairan yang terbentuk di pasir hisap sehingga gerakan korban membuatnya terperosok semakin dalam,” kata Daniel Bonn, pemimpin penelitian dari University of Amsterdam sebagaimana ditulis dalam jurnal Nature.
Berdasarkan pengukuran terhadap peralatan aluminium ini, meningkatkan tekanan fisik ke partikel sebesar 1 persen menyebabkan kecepatan tenggelamnya naik sejuta kali. Bonn menambahkan bahwa menarik benda dari pasir pada tahap ini membutuhkan kekuatan setara mengangkat mobil berukuran menengah.
Wednesday, July 4, 2012
Strategi Kaum Pagan Menuju The New World Order (Bag.3)

Strategi Kaum Pagan Menuju The New World Order (Bag.2)

Strategi Kaum Pagan Menuju The New World Order (Bag.1)

Monday, July 2, 2012
Di Balik Kokohnya Gunung...

Ketika berbicara tentang gunung, banyak hal akan terlintas dalam benak kita, di antaranya gunung api yang meletus dengan dahsyatnya. Kekuatan letusan gunung berapi mampu menimbulkan gempa hebat, gelombang tsunami, maupun muntahan lahar yang meluluhlantakkan apa pun yang diterpanya...
Namun, apakah ini berarti bahwa ketiadaan gunung akan menghilangkan bencana alam yang kerap kali menelan korban jiwa ini, dan menjadikannya lebih aman untuk dihuni? Fakta menunjukkan sebaliknya. Bumi yang rata akibat ketiadaan gunung ternyata justru akan menghancurkan segala yang ada.
Kerak bumi adalah lapisan permukaan tempat kita sehari-hari berjalan dan membangun rumah dengan aman. Tetapi, kerak bumi ternyata tidak diam alias bergerak di atas suatu lapisan lain yang dinamakan mantle (jaket), yang lebih padat dari kerak bumi. Jika tidak ada perangkat yang mengendalikan pergerakan kerak bumi ini, maka goncangan dan gempa terus-menerus akan terjadi di bumi, yang tentu menjadikannya tempat yang benar-benar tak dapat dihuni. Namun, keberadaan gunung-gunung dan struktur perpanjangannya yang menghujam jauh ke dalam bumi berperan besar mengurangi pergerakan lapisan di bawah permukaan tanah, sehingga mencegah atau memperkecil goncangan yang diakibatkannya.
Gunung-gunung di bumi terbentuk akibat pergerakan dan tubrukan antar-lempengan raksasa yang membentuk lapisan kerak bumi (lihat gambar). Ketika dua lempengan saling bertubrukan, salah satunya biasanya akan menerobos di bawah lempengan yang kedua. Lempengan kedua yang berada bagian atas terdorong ke atas sehingga membentuk punggung gunung. Pada saat bersamaan, lempengan yang berada di bawah terus menembus, menghujam ke bawah, dan membentuk perpanjangan yang jauh ke dalam bumi. Ini berarti gunung memiliki semacam akar berupa perpanjangan yang menancap dan menghujam ke dalam bumi. Bagian ini sama besarnya dengan punggung gunung yang tampak menjulang tinggi di atas permukaan bumi. Dengan kata lain, gunung tertancap dan mengakar kokoh pada bagian kerak bumi yang disebut mantle (jaket).
Jadi, gunung mencengkeram lempengan-lempengan bumi dengan memanjang ke atas dan ke bawah permukaan bumi. Dengan demikian gunung menembus dan menancap pada tempat bertemunya lempengan-lempengan tersebut. Dengan cara ini, gunung mencegah kerak bumi bergerak atau bergeser secara terus-menerus di atas lapisan magma atau di antara lapisan-lapisannya. Singkatnya, kita dapat menyamakan gunung sebagaimana paku atau pasak yang menancap dan mencengkeram lembaran-lembaran papan kayu dengan erat dan kokoh. Kerak bumi yang bersifat mudah bergerak ini diredam oleh gunung, sehingga mampu mencegah guncangan hingga batas tertentu.
Gunung yang tampak kokoh perkasa juga memiliki peran lain dalam menjaga keseimbangan di bumi, terutama dalam penyebaran panas. Perbedaan suhu antara khatulistiwa dan wilayah kutub bumi adalah sekitar 100oC. Jika perbedaan suhu tersebut terjadi di permukaan bumi yang rata, maka ini akan memunculkan aliran udara berupa badai angin sangat kencang berkecepatan hingga 1000 km (621 mil) per jam yang akan menghancurkan bumi. Namun, permukaan bumi yang tidak rata mampu menahan aliran angin kencang yang dimunculkan oleh perbedaan suhu ini. Jajaran pegunungan bermula dengan gunung Himalaya di Cina, yang berlanjut dengan gunung Taurus di selatan Turki, dan kemudian naik ke atas hingga jajaran pegunungan Alpina di Eropa. Jajaran pegunungan Atlantik dan Samudera Pasifik juga memiliki fungsi yang sama.
Sebagaimana seluk-beluk dan bagian bumi yang lain, apa yang ada pada gunung merupakan bagian dari kekuatan, kehebatan dan kesempurnaan ciptaan Allah. Allah telah menciptakan bumi beserta seluruh seluk-beluknya dengan sempurna sebagai tempat hidup kita.
Setelah mengetahui sejumlah hal yang mengagumkan ini, manusia sepatutnya sadar dan mengakui bahwa hal terpenting dalam hidupnya adalah kewajiban untuk mengabdi kepada Allah, dan beramal untuk tujuan yang satu ini. Sebab, manusia senantiasa bergantung pada nikmat Allah yang tak terhingga, sedangkan Allah, Dia Mahakaya dan tidak memerlukan sesuatu pun. Inilah kebenaran terpenting yang hendaknya didapatkan dan dipahami oleh manusia di balik dahsyatnya kekuatan alam, sebagaimana yang ada pada gunung.
Durian yang Jatuh Ke Atas......

Isaac Newton adalah ilmuwan terkemuka asal Inggris. Teori gravitasinya yang terkenal seringkali dikaitkan dengan “the falling apple”, yakni kisah buah apel yang jatuh menimpa kepalanya. Konon kabarnya, peristiwa inilah yang mengilhami hukum gravitasi itu. Menurut kisah yang dianggap legenda oleh sebagian orang ini, suatu ketika Newton sedang membaca buku sembari duduk di bawah pohon apel. Tanpa diduga, buah apel jatuh dari pohon dan mengenai kepalanya. Ia pun bertanya pada diri sendiri, “Mengapa apel ini tidak jatuh ke atas atau ke samping, tetapi malah ke bawah?”
Sejenak tampaknya tak ada yang aneh dari peristiwa tersebut. Di negara tropis seperti Indonesia, jatuhnya buah-buahan dari ranting pohonnya adalah pemandangan yang biasa saja. Bahkan, terdapat pohon yang batang dan buahnya lebih tinggi dan lebih besar dari apel, misalnya durian dan nangka. Ketika jatuh dari ketinggian yang sama, buah nangka dan durian akan lebih menyakitkan kepala orang yang ditimpanya ketimbang apel. Apalagi kulit durian dipenuhi duri-duri tajam. Tapi mengapa sebagian besar kita memandang peristiwa jatuhnya buah-buahan tropis ini sebagai hal yang biasa saja, tidak seperti Newton. Yang jelas, ini bukan karena orang yang tertimpa buah durian atau nangka merasa kesakitan dan kapok sehingga tak mau berpikir tentang fenomena alam tersebut. Lalu apa pasalnya?
Di zaman Newton, apel adalah buah yang akrab didengar dan umum dimakan masyarakat Inggris, bahkan hingga hari ini oleh hampir semua orang di dunia. Beberapa mereka mungkin pernah pula kejatuhan apel seperti yang dialami Newton. Tapi yang membedakan di sini adalah perbuatan Newton: “mempertanyakan mengapa apel jatuh ke arah bawah”. Di sinilah kuncinya. Newton melakukan sesuatu yang selalu diabaikan kebanyakan orang: mengkaji sesuatu yang tampak ‘biasa saja’. Ketertarikan pada fenomena alam yang ‘biasa saja’ inilah yang menjadikan Newton yang awalnya hanya sebuah nama bagi dirinya, menjadi Newton sebagai julukan hukum gravitasi temuannya.
Begitulah, ketertarikan mendalam terhadap peristiwa alam merupakan pintu gerbang menuju perkembangan ilmu pengetahuan. Para ilmuwan terkemuka perintis ilmu pengetahuan dari Timur Tengah maupun Barat adalah mereka yang memiliki ketertarikan terhadap gejala alam di sekitar mereka. Lebih dari itu, kegiatan ilmiah mereka ternyat a didorong oleh sesuatu yang jauh di atas tujuan duniawi dan kesenangan sesaat semata. Para ilmuwan ini beriman kepada Tuhan dan mengabdi kepada ilmu pengetahuan dengan niat menyingkap rahasia alam ciptaan-Nya. Newton berkata, “Kita mengenal-Nya hanya melalui perancangan-Nya yang paling bijak dan luar biasa atas segala sesuatu... [Kita] memuji dan mengagungkan-Nya sebagai hamba-Nya...” (Sir Isaac Newton, Mathematical Principles of Natural Philosophy, Great Books of the Western World 34, William Benton, Chicago, 1952:273-74)
Demikianlah, manusia hendaknya menyaksikan peristiwa alam di hadapannya tidak dengan kaca mata “biasa saja”. Sebab Allah menciptakan segala sesuatu di alam dengan perancangan sempurna dan perhitungan cermat. Bukti keagungan Pencipta hanya dapat dipahami oleh mereka yang terbiasa memikirkan secara mendalam atas segala yang mereka saksikan, tanpa menunggu hal yang ‘luar biasa’ seperti jatuhnya buah durian ke atas!

