Tuesday, August 20, 2013

Dengarkan Curhatku : Sekolah Harusnya Murah!!!

Saya ingat betul bagaimana perjuangan saya untuk bisa menikmati pendidikan sampai perguruan tinggi. orang tua harus banting tulang mati-matian untuk membayar ongkos sekolah yang untuk ukuran keluarga saya sangat mahal. Teman-teman saya di desa bahkan banyak yang tidak pernah berfikir tentang kuliah karena kuliah bagi mereka ibarat barang mewah yang tidak perlu susah-susah diperjuangkan karena memang untuk ukuran mereka tempatnya cuma ada diangan-angan, masalahnya bukan karena tidak faham arti penting pendidikan tapi lebih banyak karena ongkosnya yang membumbung diluar kemampuan.

Akhir-akhir ini saya mencoba mencari sekolah untuk adik saya, tentu saya mencari sekolah dengan kualitas baik dan murah, atau paling tidak bisa dijangkau oleh kemampuan ekonomi keluarga yang tak seberapa, hasilnya tak kunjung saya temui sekolah dengan kualitas baik yang ongkosnya bisa kami jangkau. Barangkali memang “makin mahal makin bermutu” sudah menjadi kredo dunia pendidikan saat ini, persis kredo rumah bordil!!. Dan tentu dengan kredo semacam itu ada diskriminasi yang tegas terhadap kalangan miskin, padahal jelas-jelas dalam konstitusi diamanatkan bahwa pendidikan adalah hak setiap warga Negara tanpa ada pembedaan status sosial. Kondisi ini diperparah lagi dengan Realitas dimana banyak juga sarjana yang ujung-ujungnya tak kebagian pekerjaan. sudah susah payah keluar uang untuk sekolah yang jumlahnya tidak sedikit ujung-ujungnya jadi pengangguran ini tentu sebuah kesalahan. Agaknya pendidikan yang mahal ini terjadi karena negara yang terlalu malas untuk mengambil peran, hasilnya kapitalisme pendidikan merajalela. Pendidikan pun menjadi komoditi para pengusaha dan penguasa. Akhirnya saya pun bisa memahami bahwa banyak persoalan negeri ini, soal korupsi, kenakalan remaja (yang sekarang sudah bertransformasi menjadi kejahatan remaja), kemiskinan, kriminalitas tak pernah lepas dari kontribusi dunia pendidikan yang kacau balau ini.

Mari kita coba telaah, kata kuncinya adalah kompetisi dan globalisasi, kini sekolah adalah tempat dimana ruang belajar bukan lagi ada pada guru. Belajar identik dengan perolehan kemampuan dan keterampilan. Seperti computer, bahasa asing dll. Muaranya adalah pada bagaimana para siswa dapat berkompetisi di era globalisasi. Dunia yang semakin menciut ini telah meletakkan badan setiap orang untuk bergesekan dan berlomba. Berebut posisi dan kedudukan kian membuat kebutuhan untuk menjadi unggul jadi sesuatu yang primer. Keunggulan itulah yang telah membuat sekolah seperti perusahaan catering. Menyiapkan macam-macam menu yang diorientasikan pada rasa enak dan kenyang. Sekolah tidak bangga karena murah biaya, tapi akan bertepuk dada karena fasilitas yang lengkap. Fasilitas itu bentuknya berupa gedung dan ruangan yang megah, hingga pengajar dari berbagai Negara, janjinya selalu saja serupa, akan lahir lulusan yang siap bertarung dalam iklim global.

Globalisasi ini memang membuat setiap orang dihinggapi rasa takut dan cemas, karenanya pengangguran telah membuat setiap lapis generasi harus siap untuk menjadi orang terbuang. Lembaga pendidikan pun akhirnya mengalami nasib yang tragis. Lembaga pendidikan berjalan dengan orientasi meraup laba sebesar-besarnya. Pendidikan kini harus mengubah strategi, dari upaya untuk pencerdasan menjadi unit bisnis untuk melahirkan produk sebanyak-banyaknya. Pendidikan saat ini berubah menjadi mesin industri. Mesin yang bekerja dengan logika efisiensi dan efektivitas. Dengan mempercepat waktu pembelajaran, pendidikan kemudian lebih mirip dengan proses pembuatan sabun, mengeluarkan dalam jumlah banyak tanpa perbedaan sama sekali. Swastanisasi ini lah yang menjadi biang keladi terutama ketika memasuki dunia pendidikan, ada kepentingan yang menyelinap dari kalangan pemodal utamanya ketika mendirikan sekolah, seperti sebuah pabrik sekolah akan menghasilkan makhuk yang namanya bermacam-macam, yang normal memang akan menghasilkan lulusan yang bisa berbuat apa saja, yang mengejutkan akan mengeluarkan anak didik yang memiliki kepedulian tinggi atas banyak masalah, tapi yang umum akan cetuskan pengangguran. Tapi mana peduli sekolah dengan lulusannya yang berkarir sebagai penganggur. Sekolah memang bukan monster yang haus akan uang, tapi yang benar sekolah memang terus menerus memerlukan biaya. Dari tahun ke tahun sekolah menaikkan ongkos dengan alasan yang bermacam-macam.

Begitulah dunia pembelajaran kemudian menjadi tempat yang mahal, pendidikan menjadi aktivitas yang sulit untuk diakses setiap orang. Tiap kali disusun usaha untuk melawan komersialisasi sekolah maka serangan balik muncul. Ada yang menganggap sekolah mahal itu memang syarat mutlak jikalau ingin maju. Disekeliling lingkungan pendidikan terbentuk anggapan bahwa mutu terdapat dalam mekanisme penyusunan materi dan bagaimana metodologi pengajaran disajikan. Makanya sejak dini anak diberi beban yang menakjubkan, beban itu bukan hanya berbentuk pelajaran melainkan juga uang iuran yang beraneka ragam. Sekolah harusnya murah, agar terjangkau setiap warga Negara, karena memang itu hak yang harus di tunaikan Negara sebagai bagian dari kontrak sosial yang dibuat dalam bentuk konstitusi.


Sekolah harusnya murah tuan
Agar kami yang ingin pintar tak harus kepayahan
Lebih buruk, kami ambruk sebelum sampai tujuan
Sekolah harusnya murah tuan
Karena mendidik kami yg miskin adalah kewajiban, 
itu tujuan Negara didirikan, 
yang bapak2 pendiri bangsa ini inginkan…
Negara berdaulat juga bermartabat, oleh karenanya kami harus pintar tuan…

Sunday, August 11, 2013

UMMU SALAMAH - Contoh Kaum Wanita Dalam Hal Kesetiaan, Jihad dan Kesabaran

Beliau adalah Hindun binti Abi Umayyah bin Mughirah al-Makhzumiyah al-Qursyiyah. Bapaknya adalah putra dari salah seorang Quraisy yang diperhitungkan (disegani) dan terkenal dengan kedermawanannya.

Ayahnya dijuluki sebagai "Zaad ar-Rakbi " yakni seorang pengembara yang berbekal. Dijuluki demikian karena apabila dia melakukan safar (perjalanan) tidak pernah lupa mengajak teman dan juga membawa bekal bahkan ia mencukupi bekal milik temannya. Adapun ibu beliau bernama 'Atikah  binti Amir bin Rabi'ah al-Kinaniyah dari Bani Farras yang terhormat.

Disamping beliau memiliki nasab yang terhormat ini beliau juga seorang wanita yang berparas cantik, berkedudukan dan seorang wanita yang cerdas.Pada mulanya dinikahi oleh Abu Salamah Abdullah bin Abdil Asad al-Makhzumi, seorang shahabat yang agung dengan mengikuti dua kali hijrah. Baginya Ummu  Salamah adalah sebaik-baik istri baik dari segi kesetiaan, kata'atan dan dalam menunaikan hak-hak suaminya. Dia telah memberikan pelayanan kepada suaminya di dalam rumah dengan pelayanan yang menggembirakan. Beliau senantiasa mendampingi suaminya dan bersama-sama memikul beban ujian dan kerasnya siksaan orang-orang Quraisy. Kemudian beliau hijrah bersama suaminya ke Habasyah untuk menyelamatkan diennya dengan meninggalkan harta, keluarga, kampung halaman dan membuang rasa ketundukan kepada orang-orang zhalim dan para thagut. Di bumi hijrah inilah Ummu Salamah melahirkan putranya yang bernama Salamah.

Bersamaan dengan disobeknya naskah pemboikotan (terhadap kaum muslimin dan kaumnya  Abu Thalib) dan setelah masuk Islamnya Hamzah bin Abdul Muthallib dan Umar bin Khaththab radhiallaahu 'anhuma , kembalilah sepasang suami-isteri ini ke Mekkah bersama shahabat-shahabat yang lainnya.

Kemudian manakala Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam mengizinkan bagi para shahabatnya untuk hijrah ke Madinah setelah peristiwa Bai'atul Aqabah al-Kubra, Abu Salamah bertekad untuk mengajak anggota keluarganya berhijrah. Kisah hijrahnya mereka ke Madinah sungguh mengesankan, maka marilah kita mendengar penuturan Ummu Salamah yang menceritakan dengan lisannya tentang perjalanan mereka tatkala menempuh jalan hijrah. Berkata Ummu Salamah:
"Tatkala Abu Salamah tetap bersikeras untuk berhijrah ke Madinah, dia menuntun untanya kemudian menaikkan aku ke atas punggung unta dan membawa anakku Salamah. Selanjutnya kami keluar dengan menuggang unta, tatkala orang-orang dari Bani Mughirah melihat kami segera mereka mencegatnya dan berkata: 'Jika dirimu saja yang berangkat maka kami tidak kuasa untuk mencegahnya namun bagaimana dengan saudara kami (Ummu Salamah yang berasal dari Bani Mughirah) ini?'. Kemudian mereka merenggut tali kendali unta dari  tangannya dan mencegahku untuk pergi bersamanya. Ketika Bani Abdul Asad dari kaum Abi Salamah melihat hal itu, mereka marah dan saling memperebutkan Salamah hingga berhasil mengambilnya dari paman-pamannya, mereka mengatakan:'Tidak! demi Allah kami tidak akan membiarkan anak laki-laki kami bersamanya jika kalian memisahkan istri dari keluarga laki-laki kami'. Mereka memperebutkan anakku, Salamah lalu melepaskan tangannya, kemudian anakku dibawa pergi bergabung dengan kaum bapaknya, sedangkan aku tertahan oleh Bani Mughirah.

Maka berangkatlah suamiku seorang diri hingga sampai ke Madinah untuk menyelamatkan dien dan nyawanya. Selama beberapa waktu lamanya, aku merasakan hatiku hancur dalam keadaan sendiri karena telah dipisahkan dari suami dan anakku. Sejak hari itu, setiap hari aku pergi keluar ke pinggir sebuah sungai, kemudian aku duduk disuatu tempat yang menjadi saksi akan kesedihanku. Terkenang olehku saat-saat dimana aku berpisah dengan suami dan anakku sehingga menyebabkan aku menangis sampai menjelang malam. Kebiasaan tersebut aku lakukan kurang lebih selama satu tahun hingga ada seorang laki-laki dari kaum pamanku yang melewatiku. Tatkala melihat kondisiku, ia menjadi iba kemudian berkata kepada orang-orang dari kaumku: 'Apakah kalian tidak membiarkan wanita yang miskin ini untuk keluar? Sungguh kalian telah memisahkannya dengan suami dan anaknya'. Hal itu dikatakan secara berulangkali sehingga menjadi lunaklah hati mereka, kemudian mereka berkata kepadaku: 'Susullah suamimu jika kamu ingin'. Kala itu anakku juga dikembalikan oleh Bani Abdul Asad kepadaku. Selanjutnya aku mengambil untaku dan meletakkan anakku dipangkuannya. Aku keluar untuk menyusul suamiku di Madinah dan tak ada seorangpun yang bersamaku dari makhluk Allah.

Manakala aku sampai di at-Tan'im aku bertemu dengan Utsman bin Thalhah. Dia bertanya kepadaku:'Hendak kemana anda wahai putri Zaad ar-Rakbi?'. 'Aku hendak menyusul suamiku di Madinah", jawabku. Utsman berkata: 'apakah ada seseorang yang menemanimu?. Aku menjawab: 'Tidak! demi Allah! melainkan hanya Allah kemudian anakku ini'. Dia menyahut: 'Demi Allah engkau tidak boleh ditinggalkan sendirian'. Selanjutnya dia memegang tali kekang untaku dan menuntunnya untuk menyertaiku. Demi Allah tiada aku kenal seorang laki-laki Arab yang lebih baik dan lebih mulia dari Ustman bin Thalhah. Apabila kami singgah di suatu tempat, dia mempersilahkan aku berhenti dan kemudian dia menjauh dariku menuju sebuah pohon  dan dia berbaring dibawahnya. Apabila kami hendak melanjutkan perjalanan, dia mendekati untaku untuk mempersiapkan dan memasang pelananya kemudian menjauh dariku seraya berkata: 'Naiklah!'. Apabila aku sudah naik ke atas unta dia mendatangiku dan menuntun untaku kembali. Demikian seterusnya yang dia lakukan hingga kami sampai di Madinah. Tatkala dia melihat desa Bani Umar bin Auf di Quba' yang merupakan tempat dimana suamiku, Abu Salamah berada di tempat hijrahnya. Dia berkata:'Sesungguhnya suamimu berada di desa ini, maka masuklah ke desa ini dengan barokah Allah'. Sementara Ustman bin Thalhah langsung kembali ke Makka".

Begitulah, Ummu Salamah adalah wanita pertama yang memasuki Madinah dengan sekedup unta sebagaimana beliau juga pernah mengikuti rombongan pertama yang hijrah ke Habasyah. Selama di Madinah beliau sibuk mendidik anaknya - inilah tugas pokok bagi wanita - dan mempersiapkan sesuatu sebagai bekal suaminya untuk berjihad dan mengibarkan bendera Islam. Abu Salamah mengikuti perang Badar dan perang Uhud. Pada Perang Uhud inilah beliau terkena luka yang parah. Beliau terkena panah pada begian lengan dan tinggal untuk mengobati lukanya hingga merasa sudah sembuh.

Selang dua bulan setelah perang Uhud, Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam mendapat laporan bahwa Bani Asad merencanakan hendak menyerang kaum muslimin. Kemudian beliau memanggil Abu Salamah dan mempercayakan kepadanya untuk membawa bendera pasukan menuju "Qathn", yakni sebuah gunung yang berpuncak tinggi disertai pasukan sebanyak 150 orang. Di antara mereka adalah 'Ubaidullah bin al-Jarrah dan Sa'ad bin Abi Waqqash.

Abu Salamah melaksanakan perintah Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam untuk menghadapi musuh dengan antusias. Beliau menggerakkan pasukannya pada gelapnya subuh saat musuh lengah. Maka usailah peperangan dengan kemenangan kaum muslimin sehingga mereka kembali dalam keadaan selamat dan membawa ghanimah. Disamping itu, mereka dapat mengembalikan sesuatu yang hilang yakni kewibawaan kaum muslimin tatkala perang Uhud.

Pada pengiriman pasukan inilah luka yang diderita oleh Abu Salamah pada hari Uhud kembali kambuh sehingga mengharuskan beliau terbaring ditempat tidur. Di saat-saat dia mengobati lukanya, beliau berkata kepada istrinya: "Wahai Ummu Salamah, aku mendengar Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam  bersabda:
"Tiada seorang muslimpun yang ditimpa musibah kemudian dia mengucapkan kalimat istirja' (inna lillahi wa inna ilaihi raji'un), dilanjutkan dengan berdo'a:'Ya Allah berilah aku pahala dalam musibah ini dan gantilah untukku dengan yang lebih baik darinya' melainkan Allah akan menggantikan yang lebih baik darinya".

Pada suatu pagi Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam datang untuk menengoknya dan beliau terus menunggunya hingga Abu Salamah berpisah dengan dunia. Maka Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam memejamkan kedua mata Abu Salamah dengan kedua tangannya yang mulia, beliau mengarahkan pandangannya ke langit seraya  berdo'a:
"Ya Allah ampunilah Abu Salamah, tinggikanlah derajatnya dalam golongan Al-Muqarrabin dan gantikanlah dia dengan kesudahan yang baik pada masa yang telah lampau dan ampunilah kami dan dia Ya Rabbal'Alamin".

Ummu Salamah menghadapi ujian tersebut dengan hati yang dipenuhi dengan keimanan dan jiwa yang diisi dengan kesabaran beliau pasrah dengan ketetapan Allah dan qadar-Nya.Beliau ingat do'a Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Abu Salamah yakni:
"Ya Allah berilah aku pahala dalam musibah ini…"

Sebenarnya ada rasa tidak enak pada jiwanya manakala dia membaca do'a: "Wakhluflii khairan minha" (dan gantilah untukku dengan yang lebih baik darinya) karena hatinya bertanya-tanya: 'Lantas siapakah gerangan yang lebih baik daripada Abu Salamah?'. Akan tetapi beliau tetap menyempurnakan do'anya agar bernilai ibadah kepada Allah.

Ketika telah habis masa iddahnya, ada beberapa shahabat-shahabat utama yang bermaksud untuk melamar beliau. Inilah kebiasaan kaum muslimin dalam menghormati saudaranya, yakni mereka manjaga istrinya apabila mereka terbunuh di medan jihad. Akan tetapi Ummu Salamah menolaknya.

Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam turut memikirkan nasib wanita yang mulia ini; seorang wanita mukminah, jujur, setia dan sabar. Beliau melihat tidak bijaksana rasanya apabila dia dibiarkan menyendiri tanpa seorang pendamping. Pada suatu hari, pada saat Ummu Salamah sedang menyamak kulit, Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam datang dan meminta izin kepada Ummu Salamah untuk menemuinya. Ummu Salamah mengizinkan beliau. Beliau ambilkan sebuah bantal yang terbuat dari kulit dan diisi dengan ijuk sebagai tempat duduk bagi Nabi. Maka Nabi pun duduk dan melamar Ummu Salamah. Tatkala Rasulullah selesai berbicara, Ummu Salamah hampir-hampir tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Tiba-tiba beliau ingat hadits yang diriwayatkan oleh Abu Salamah, yakni; "Wakhlufli khairan minha" (dan gantilah untukku dengan yang lebih baik darinya), maka hatinya berbisik:'Dia lebih baik daripada Abu salamah'. Hanya saja ketulusan dan keimanannya menjadikan beliau ragu, beliau hendak mengungkapkan kekurangan yang ada pada dirinya kepada Rasulullah. Dia berkata:"Marhaban ya Rasulullah, bagaimana mungkin aku tidak mengharapkan anda ya Rasulullah…hanya saja saya adalah seorang wanita yang pencemburu, maka aku takut jika engkau melihat sesuatu yang tidak anda senangi dariku maka Allah akan mengadzabku, lagi pula saya adalah seorang wanita yang telah lanjut usia dan saya memiliki tanggungan keluarga. Maka Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam bersabda:"Adapun alasanmu bahwa engkau adalah wanita yang telah lanjut usia, maka sesungguhnya aku lebih tua darimu dan tiadalah aib manakala dikatakan dia telah menikah dengan orang yang lebih tua darinya. Mengenai alasanmu bahwa engkau memiliki tanggungan anak-anak yatim, maka semua itu menjadi tanggungan Allah dan Rasul-Nya. Adapun alasanmu bahwa engkau adalah wanita pencemburu, maka aku akan berdo'a kepada Allah agar menghilangkan sifat itu dari dirimu. Maka beliau pasrah dengan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam . Dia berkata:"Sungguh Allah telah menggantikan bagiku seorang suami yang lebih baik dari Abu Salamah, yakni Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam.

Maka jadilah Ummu Salamah sebagai Ummul mukminin. Beliau hidup dalam rumah tangga nubuwwah yang telah ditakdirkan untuknya dan merupakan suatu kedudukan yang beliau harapkan. Beliau menjaga kasih sayang dan kesatuan hati bersama para ummahatul mukminin.
Ummu Salamah adalah seorang wanita yang cerdas dan matang dalam memahami persoalan dengan pemahaman yang baik dan dapat mengambil keputusan dengan tepat pula. Hal itu ditunjukkan pada peristiwa Hudaibiyah manakala Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam memerintahkan para shahabatnya untuk menyembelih qurban selepas terjadinya perjanjian dengan pihak Quraisy. Namun ketika itu, para shahabat tidak mengerjakannya karena sifat manusiawi mereka yang merasa kecewa dengan hasil perjanjian Hudaibiyah yang banyak merugikan kaum muslimin. Berulangkali Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam memerintahkan mereka akan tetapi tetap saja tak seorangpun mau mengerjakannya. Maka Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam masuk menemui Ummu Salamah dalam keadaan sedih dan kecewa. Beliau ceritakan kepada Ummu Salamah perihal kaum muslimin yang tidak mau mengerjakan perintah beliau. Maka Ummu Salamah berkata:"Wahai Rasulullah apakah anda menginginkan hal itu?. Jika demikian, maka silahkan anda keluar dan jangan berkata sepatah katapun dengan mereka sehingga anda menyembelih unta anda, kemudian panggillah tukang cukur anda untuk mencukur rambut anda (tahallul).

Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam menerima usulan Ummu Salamah. Maka beliau berdiri dan keluar tidak berkata sepatah katapun hingga beliau menyembelih untanya. Kemudian beliau panggil tukang cukur beliau dan dicukurlah rambut beliau. Manakala para shahabat melihat apa yang dikejakan oleh Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam, maka mereka bangkit dan menyembelih kurban mereka, kemudian sebagian mereka mencukur sebagian yang lain secara bergantian. Hingga hampir-hampir sebagian membunuh sebagian yang lain karena kecewa. Setelah Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam menghadap Ar-Rafiiqul A'la, maka Ummul Mukminin, Ummu Salamah senantiasa memperhatikan urusan kaum muslimin dan mengamati peristiwa-peristiwa yang terjadi. Beliau selalu andil dengan kecerdasannya dalam setiap persoalan untuk menjaga lurusnya umat dan mencegah mereka dari penyimpangan, terlebih  lagi terhadap para penguasa dari para Khalifah maupun para pejabat. Beliau singkirkan segala kejahatan dan kezhaliman terhadap kaum muslimin, beliau terangkan kalimat yang haq dan tidak takut terhadap celaan dari orang yang suka mencela dalam rangka melaksanakan perintah Allah. Tatkala tiba bulan Dzulqa'dah tahun 59 setelah hijriyah, ruhnya menghadap Sang Pencipta sedangkan umur beliau sudah mencapai 84 tahun. Beliau wafat setelah memberikan contoh kepada wanita dalam hal kesetiaan, jihad dan kesabaran.

Tuesday, July 30, 2013

Bahaya Tama'im (Jimat)

Suatu ketika, datang rombongan yang terdiri atas 10 orang menghadap Nabi Muhammad SAW untuk berbaiat (menyatakan masuk Islam). Lalu Rasulullah SAW membaiat yang sembilan orang dan menahan yang seorang lainnya. Para sahabat bertanya, ''Mengapa engkau menahan yang seorang lagi ya Rasulullah.'' Beliau menjawab, ''Sesungguhynya di pundaknya terdapat jimat.''

Akhirnya, laki-laki itu membuang jimat yang ada di tubuhnya. Setelah itu baru Rasulullah SAW membaiatnya seraya bersabda, ''Barangsiapa yang menggantungkan jimat, sesungguhnya dia telah melakukan perbuatan syirik.'' (HR Ahmad, Al-Hakim, dan Abu Ya'la dengan isnad jayyid).

Hadis tersebut menyiratkan larangan kepada kaum Muslimin untuk melakukan hal-hal yang berbau klenik. Memasang jimat untuk menolak bala, mengandalkan jampi-jampi untuk menolak penyakit, dan memakai guna-guna untuk mencelakakan orang lain adalah bagian dari hal yang berbau klenik. Tindakan seperti ini jelas bertentangan dengan ajaran Islam.

Istilah yang sering kita kenal sebagai jimat, dalam Islam dinamakan tama'im (tamimah), yaitu sesuatu yang mereka gantungkan pada anak-anak mereka untuk mengusir jin, penyakit mata, dan lain-lain. Rasulullah SAW bersabda, ''Sesungguhnya jampi-jampi, jimat-jimat, dan tiwalah (guna-guna yang dipakai wanita untuk menjadikan suaminya cinta kepadanya) adalah syirik.'' (HR Ahmad, Abu Daud, Baihaqi, dan Hakim).

Para sahabat dan tabi'in juga sangat membenci jimat-jimat. Hudzaifah pernah melihat seorang laki-laki yang menggantungkan benang sebagai jimat, lalu beliau membacakan ayat yang terdapat dalam surat Yunus ayat 106, ''Dan jangan engkau seru sesuatu dari selain Allah apa yang tidak memberi manfaat maupun madharat kepada kamu ....''

Diriwayatkan dari Ibrahim An Nakha'i, salah seorang pembesar tabi'in, berkata, ''Mereka (para sahabat) membenci semua bentuk jimat, baik yang dari Alquran maupun bukan dari Alquran. Berdasarkan dalil-dalil yang mu'tabar pelarangan terhadap semua bentuk jimat, jampi-jampi, dan guna-guna bagi orang mukmin itu dilatari beberapa alasan.


Pertama, Nabi Muhammad SAW mengingkari orang yang memakai tamimah (jimat), baik tamimah itu dari ayat Alquran maupun bukan. Kedua, untuk mengantisipasi kemungkinan makin meluasnya penggunaan jimat. Orang yang menggantungkan Alquran menjadi jimat, suatu ketika akan menggantungkan hal yang lain untuk kepentingan yang sama.  Ketiga, perbuatan semacam itu sama dengan merendahkan dan menghina Alquran. Orang yang memakainya akan membawanya ke tempat-tempat najis, buang air, istinja', kadang-kadang janabah atau digunakan oleh wanita yang sedang haid.

Karena itu, sangat tepat pendapat yang mengatakan bahwa semua jimat, jampi-jampi, dan guna-guna itu terlarang. Bahkan, Rasulullah SAW telah mendoakan orang-orang yang memakainya dengan doa, ''Barangsiapa yang menggantungkan jimat, mudah-mudahan Allah tidak menyempurnakan urusannya. Dan barangsiapa yang menggantungkan benda keramat (sebagai penangkal), mudah-mudahan Allah tidak memberi perlindungan kepadanya.'' Wallahu a'lam.

Zaid bin Haritsah : Budak Pembela Rasulullah


Tidak semua peperangan melawan orang-orang kafir atau rezim Romawi saat itu, dipimpin langsung oleh Rasulullah SAW. Dalam beberapa pertempuran membela agama itu, posisi panglima perang ada kalanya didelegasikan kepada para sahabat. Peperangan Muktah, salah satunya. 

Saat Rasulullah akan melepas pasukan Islam ke medan pertempuran Muktah, ia berpesan kepada pasukan Muslim, "Kalian semua berada di bawah pimpinan Zaid bin Haritsah. Seandainya ia tewas, pimpinan akan diambil alih oleh Ja'far bin Abi Thalib. Seandainya Ja'far tewas pula, maka komando hendaklah dipegang oleh Abdullah bin Rawahah."

Siapa sejatinya Zaid bin Haritsah? Para pakar sejarah melukiskan sosok ini sebagai pria dengan perawakan biasa, pendek, kulitnya coklat kemerah-merahan, dan hidung yang agak pesek. Soal kapan dan di mana dia lahir, tak ada bukti pasti maupun catatan sejarah yang menegaskan hal itu. Goresan sejarah yang pasti adalah, Zaid termasuk salah seorang pahlawan agung Islam yang kesetiaan dan pembelaannya terhadap Rasulullah tidak diragukan lagi. 

Zaid kecil sesungguhnya tak lepas dari kisah pedih dan penderitaan keluarganya. Ia misalnya diketahui, sejak kecil sudah harus berpisah dengan ibunya, Su'da, yang dititipkan oleh ayahnya, Haritsah, ziarah ke sanak familinya di kampung Bani Maan. Su'da sedang menggendong anaknya yang masih kecil, Zaid bin Haritsah, ketika suaminya hendak menitipkan isteri dan anaknya kepada rombongan kafilah yang akan berangkat. Kafilah berangkat meninggalkan kampung itu, dan Haritsah pun mengucapkan selamat jalan kepada isteri dan anaknya.

Sesampai di tempat tujuan, beberapa waktu kemudian terjadilah musibah yang menimpa penduduk kampung Bani Maan. Kampung itu habis porak-poranda diserang oleh gerombolan perampok Badui. Semua barang berharga milik penduduk kampung dikuras habis, penduduknya ditawan dan digiring oleh para perampok itu sebagai tawanan, termasuk si kecil Zaid bin Haritsah.

Ketika kabilah perampok yang menyerang desa Bani Maan berhasil dengan rampokannya, mereka pergi ke pasar Ukaz menjual barang-barang dan tawanan rampokannya. Si kecil Zaid dibeli oleh Hakim bin Hizam. Di kemudian hari, ia memberikannya kepada saudara tua perempuannya, Siti Khadijah. Ketika itu, Khadijah Ra telah menjadi isteri Muhammad bin Abdullah (sebelum diangkat menjadi Rasul oleh Allah SWT). 

Khadijah kemudian memberikan khadamnya, Zaid, sebagai pelayan bagi Muhammad. Laki-laki ini menerimanya dengan senang hati, dan segera memerdekakannya. Dengan kepribadian dan fisiknya yang besar dan jiwanya yang mulia, Zaid diasuh dan dididik oleh Khadijah dengan segala kelembutan dan kasih sayang seperti halnya anak sendiri.

Suatu ketika di musim haji, sekelompok orang dari desa tempat Haritsah tinggal berjumpa dengan Zaid di Mekkah. Mereka menyampaikan kerinduan ayah bunda Zaid. Ayah Zaid menyusul menemui Muhammad. 

Setelah bertemu dengan Muhammad, Haritsah berkata, "Wahai Ibnu Abdul Muththalib...! Wahai putera dari pemimpin kaumnya! Anda termasuk penduduk Tanah Suci yang biasa membebaskan orang tertindas, yang suka memberi makanan para tawanan. Kami datang ini kepada Anda hendak meminta anak kami. Sudilah kiranya menyerahkan anak itu kepada kami dan bermurah hatilah menerima uang tebusannya seberapa adanya?"

Tak saja merasakan benar bahwa hati Zaid telah lekat dan terpaut kepadanya, Muhammad juga merasakan pula seorang ayah terhadap anaknya, Zaid. Maka, kata Muhammad kepada Haritsah, "Panggillah Zaid itu ke sini, suruh ia memilih sendiri. Seandainya dia memilih Anda, maka akan saya kembalikan kepada Anda tanpa tebusan. Sebaliknya, jika ia memilihku, maka demi Allah aku tak hendak menerima tebusan dan tak akan menyerahkan orang yang telah memilihku!"

Mendengar ucapan Muhammad demikian, wajah Haritsah berseri-seri karena tak disangkanya sama sekali keluar darinya kemurahan seperti itu, lalu ucapnya: "Benar-benar Anda telah menyadarkan kami dan Anda beri pula keinsyafan di balik kesadaran itu!" Kemudian Muhammad menyuruh seseorang untuk memanggil Zaid. Setiba di hadapannya, Rasul bertanya, "Tahukah Engkau siapa orang-orang ini?" "Ya, tahu," jawab Zaid." Yang ini ayahku, sedangkan yang seorang lagi adalah pamanku. Tapi, tak ada orang pilihanku, kecuali Anda (Muhammad)! Andalah ayah, dan Andalah pamanku!"

Mendengar itu, kedua mata Muhammad basah karena rasa syukur dan haru. Lalu dipegangnya tangan Zaid, dan dibawanya ke pekarangan Ka'bah, tempat orang-orang Quraisy banyak berkumpul, lalu serunya: "Saksikan oleh kalian semua bahwa mulai saat ini Zaid adalah anakku yang akan menjadi ahli warisku dan aku jadi ahli warisnya."

Mendengar ucapan itu hati Haritsah seakan-akan berada diawang-awang karena suka citanya, sebab ia bukan saja telah menemukan kembali anaknya bebas merdeka tanpa tebusan, malahan sekarang diangkat pula sebagai anak oleh seseorang yang termulia dari suku Quraisy yang terkenal dengan sebutan "Ash-Shadiqul Amin" (orang lurus tepercaya), keturunan Bani Hasyim, tumpuan penduduk kota Mekkah seluruhnya. Sejak saat itu, Zaid terkenal di kalangan penduduk Mekkah dengan nama "Zaid bin Muhammad."

Tak berapa lama, seruan wahyu yang pertama pun datang kepada Muhammad, "Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah menciptakan! Ia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, yang telah mengajari manusia dengan kalam (pena). Mengajari manusia apa-apa yang tidak diketahuinya." (Al-Alaq: 1-5). Menyusul kemudian wahyu dalam surat Al-Muddatsir: 1-3, dan Al-Maidah: 67.

Tidak tak lama setelah Muhammad memikul tugas kerasulannya dengan turunnya wahyu tersebut, jadilah Zaid sebagai orang kedua yang masuk Islam, bahkan ada yang mengatakan sebagai orang pertama. Rasul sangat sayang sekali kepada Zaid. Kesayangan Nabi itu memang pantas dan wajar disebabkan kejujurannya, kebesaran jiwanya, kelembutan dan kesucian hatinya, serta terpelihara lidah dan tangannya. 

Betapa mulia kedudukan Zaid di sisi Rasul, sampai-sampai Aisyah Ra pernah berkata, "Setiap Rasulullah mengirimkan suatu pasukan yang disertai oleh Zaid, pastilah ia yang selalu diangkat menjadi pemimpinnya. 

Seandainya ia masih hidup sesudah Rasul, tentulah ia akan diangkatnya sebagai khalifah." Begitulah Zaid, seorang anak yang pernah ditawan, diperjualbelikan, lalu dibebaskan Rasul dan dimerdekakannya dan menjadi pembela utama Rasulullah. 

Hikmah Larangan Bernafas Ketika Minum

Dari Tsumamah bin Abdullah, "Dahulu Anas bin Malik radhiyallahu ta'alaa anhu pernah bernafas di dalam bejana dua kali atau tiga kali, dan dia mengira Nabi sallallahu alaihi wa sallam pernah melakukan hal itu (HR. Bukhari, No. 5631)

Dari Abu Qatadah dan bapaknya, Rasulullah bersabda, "Apabila salah seorang diantara kalian minum, maka janganlah ia bernafas di bejana (gelas), dan jika salah seorang dari kalian kencing maka janganlah ia memegang dzakar (kemaluannya) dengan tangan kanannya, jika membersihkan maka jangan membersihkan dengan tangan kanannya (HR. Bukhari 5630)

Sebagian ulama mengatakan, "Larangan bernafas di dalam bejana ketika minum sama seperti larangan ketika makan dan minum, sebab hal itu bisa menyebabkan keluarnya ludah sehingga bisa mempengaruhi kebersihan air minum tersebut. Dan keadaan ini apabila dia makan dan minum dengan orang lain. Adapun bila ia makan sendirian atau bersama keluarganya atau dengan orang yang tidak terganggu dengan caramu tersebut, maka hal itu tidak mengapa." Aku ( Imam Ibn Hajar Al-Asqalani) berkata, "Dan yang lebih bagus adalah memberlakukan larangan hadits Nabi tersebut, sebab larangan itu bukan untuk menghormati orang yang layak dihormati ataupun untuk mendapat penghargaan dari orang lain.... Berkata Imam Al-Qurthubi, "Makna larangan itu adalah agar bejana dan air tersebut tidak tercemar dengan air ludah atau pun bau yang tidak sedap". (Fathul Barri’, 10/94)

Demikianlah penjelasan para ulama kita. Para pakar kontemporer pun telah berusaha mengorek hikmah atas larangan tersebut. Mereka mengatakan, "Ini adalah petunjuk yang indah yang diajarkan oleh Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wa sallam dalam menyempurnakan akhlaq. Dan apabila makan atau minum kemudian terpercik ludah keluar dari mulut kita, maka hal itu merupakan kekurangnya sopan santun kita, dan sebab munculnya sikap meremehkan, atau penghinaan. Dan Rasulullah adalah adalah penghulunya seluruh orang-orang yang santun dan pemimpinnya seluruh para pendidik.

Bernafas adalah aktivitas menghirup dan mengeluarkan udara; menghirup udara yang bersih lagi penuh dengan oksigen ke dalam paru-paru sehingga tubuh bisa beraktivitas sebagaimana mestinya; dan menghembuskan nafas adalah udara keluar dari paru-paru yang penuh dengan gas karbon dan sedikit oksigen, serta sebagian sisa-sisa tubuh yang beterbangan di dalam tubuh dan keluar melalui kedua paru-paru dalam bentuk gas. Gas-gas ini dalam persentase yang besar ketika angin dihembuskan, padanya terdapat sejumlah penyakit, seperti pada toksin air kencing ... Maka udara yang dihembuskan mengandung sisa-sisa tubuh yang berbentuk gas dengan sedikit oksigen. Dari hal ini kita mengetahui hikmah yang agung dari larangan Rasulullah; yaitu agar kita tidak bernafas ketika makan atau minum; akan tetapi yang dibenarkan adalah minum sebentar lalu diputus dengan bernafas di luar bejana, lalu minum kembali.

Rasulullah memberikan wejangan tentang awal yang bagus dalam perintahnya tentang memutus minum dengan bernafas sebentar-sebentar. Sebagimana sudah kita ketahui, bahwa seorang yang minum 1 gelas dalam satu kali minuman akan memaksa dirinya untuk menutup/menahan nafasnya hingga ia selesai minum. Yang demikian karena jalur yang dilalui oleh air dan makanan dan jalan yang dilalui oleh udara akan saling bertabrakan, sehingga tidak mungkin seseorang akan bisa makan atau minum sambil bernafas secara bersama-sama. Sehingga tidak bisa tidak, ia harus memutus salah satu dari keduanya. Dan ketika seseorang menutup/menahan nafasnya dalam waktu lama, maka udara di dalam paru-paru akan terblokir, maka ia akan menekan kedua dinding paru-paru, maka membesar dan berkuranglah kelenturannya setahap demi setahap. Dan gejala ini tidak akan terlihat dalam waktu yang singkat. Akan tetapi apabila seseorang membiasakan diri melakukan ini (minum dengan menghabiskan air dalam satu kali tenggakan) maka ia akan banyak sekali meminum air, seperti unta, dimana paru-parunya selalu terbuka.... Maka paru-paru akan menyempitkan nafasnya manakala ia sedikit minum air, maka kedua bibirnya kelu dan kaku, dan demikian juga dengan kukunya. Kemudian, kedua paru-parunya menekan jantung sehingga mengalami dis-fungsi jantung (gagal jantung), kemudian membalik ke hati, maka hati menjadi membesar (membengkak), kemudian sekujur tubuh akan menggembur. Dan Demikianlah keadaannya, sebab kedua paru-paru yang terbuka merupakan penyakit yang berbahaya, sampai para dokter pun menganggapnya lebih berbahaya daripada kanker tenggorokan.

Dan Nabi Sallallahu alaihi wassallam tidak menginginkan seorangpun dari ummatnya sampai menderita penyakit ini. Oleh karena itu, beliau menasihati ummatnya agar meminum air seteguk demi seteguk (antara dua tegukan dijeda dengan nafas), dan meminum air 1 gelas dengan 3 kali tegukan, sebab hal ini lebih memuaskan rasa dahaga dan lebih menyehatkan tubuh (Lihat Al-Haqa'iq Al-Thabiyyah fii Al-Islam, secara ringkas)


Sumber: Al-Arba'in Al-Ilmiah, Abdul Hamid Mahmud Thahmaaz

MASKUMAMBANG : nyanyian si "burung merak"



Kabut fajar menyusup dengan perlahan
bunga Bintaro berguguran di halaman perpustakaan
di tepi kolam, di dekat rumpun keladi
aku duduk diatas batu melelehkan airmata

Cucu-cucuku
zaman macam apa,
peradaban macam apa
yang akan kami wariskan kepada kalian.
Jiwaku menyanyikan lagu maskumambang

kami adalah angkatan pongah
besar pasak dari tiang.
kami tidak mampu membuat rencana menghadapi masa depan,
karena kami tidak menguasai ilmu untuk membaca tata buku masa lalu
dan tidak menguasai ilmu untuk membaca tata buku masa kini
maka rencana masa depan hanyalah spekulasi, keinginan, dan angan-angan

Cucu-cucuku
negara terlanda gelombang zaman edan
cita-cita kebajikan terhempas batu
lesu dipangku batu
tetapi aku keras bertahan
mendekap akal sehat dan suara jiwa
biarpun tercampak diselokan zaman

Bangsa kita kini
seperti dadu terperangkap dalam kaleng hutang
yang dikocok-kocok oleh bangsa adi kuasa
tanpa kita bisa melawannya
semuanya terjadi atas nama pembangunan
yang mencontoh tatanan pembangunan di zaman penjajahan
Tatanan kenegaraan dan tatanan hukum
juga mencontoh tatanan penjajahan
menyebabkan rakyat dan hukum hadir tanpa kedaulatan
Yang sah berdaulat hanya pemerintah dan partai politik

o comberan peradaban,
o martabat bangsa yang kini compang-camping
negara gaduh, bangsa rapuh
Kekuasaan kekerasan meraja lela
Pasar dibakar, kampung dibakar,
gubuk-gubuk gelandangan dibongkar
tanpa ada gantinya
semua atas nama tahayul pembangunan.
restoran dibakar, toko dibakar, gereja dibakar,
atas nama semangat agama yang berkobar
Apabila agama menjadi lencana politik
maka erosi agama pasti terjadi
karena politik tidak punya kepala,
tidak punya telinga, tidak punya hati,
politik hanya mengenal kalah dan menang
kawan dan lawan,
peradaban yang dangkal

Meskipun hidup berbangsa perlu politik,
tetapi politik
tidak boleh menjamah kemerdekaan iman dan akal
didalam daulat manusia
namun daulat manusia
dalam kewajaran hidup bersama di dunia
harus menjaga daulat hukum alam,
daulat hukum masyarakat
dan daulat hukum akal sehat

Matahari yang merayap naik dari ufuk timur
telah melampaui pohon dinding
udara yang ramah menyapa tubuhku
menyebarkan bau bawang yang digoreng di dapur
berdengung sepasang kumbang yang bersenggama


- sebuah sajak karya WS.Rendra