Friday, December 13, 2013

Serial Kontrakan Samping Masjid, chapter 1 : Prolog


Januari 2010, kampus gw pindah ke wilayah tembalang, anak2 undip biasa nyebut kampus tembalang ini kampus atas, ya karena memang kalo mau sampe ke kampus tembalang ini dari pusat kota semarang harus naik bukit dulu, namanya bukit gombel…(katanya sih ini bukit angker, sering banget kecelakaan terjadi di tanjakan curam yang jadi jalan utama kearah jogja solo ini, cerita soal ke’seram’annya nanti deh dibikin khusus di segmen misteri,hehe…) then, gak berapa jauh setelah tanjakan gombel ini ada patung pangeran diponegoro yang jadi gerbang masuknya kampus undip tembalang, tapi orang2 biasa nyebut patung bersejarah ini dengan sebutan patung kuda, gw gak tau sejarahnya gimana cuma kalo dipikir-pikir kasian pangeran diponegoro, ini monumen kan di bikin sebagai bentuk penghormatan kepada sosok pahlawan yang jadi inspirasi nama kampus ini, kok yang terkenal malah kudanya…yang pahlawan siapa, yang terkenal siapa kan, kasian papi dipo…kalah saing sama kuda.

Kampus gw pindah, gw juga ikut pindah donk…nahh ini, satu episode hidup gw dimulai dari sini, yang dari episode itu ada banyak banget cerita yang kayaknya bakal susah buat dilupain, ceritanya macem-macem…suka, duka, heroik, sampe cerita-cerita absurd khas mahasiswa “ndableg” tumpah ruah disini…saat kampus pindah keatas gw tinggal bareng di sebuah rumah 3 lantai yang di kontrak bareng2 sekitar 20an orang, gak banyak cerita kenapa gw bisa sampe terdampar di rumah kontrakan yang sama sekali gak mirip rumah kontrakan pada awalnya ini, tempatnya di ngesrep timur IV no 10 A, masih sekitar patung kuda lahh…Tanya aja tukang cukur Madura pinggir jalan pasti tau. Kenapa gw bilang gak mirip rumah kontrakan? Oke, lu bayangin deh rumah yang 2 tahun gak dihuni, gak dirawat, dibiarin gitu aja sama yang punya bentuknya gimana. lebih mirip rumah-rumah tempat syuting di film horror Indonesia, bisa dibayangin kan? debu dimana-mana, sarang laba-laba merajalela, puing-puing perabot rumah tangga sampe bekas celana dalam bergelantungan seenaknya…tapi anehnya waktu itu gw mau aja tinggal di tempat kayak gitu, hehe…honestly, awalnnya gw diajak sama temen 1 jurusan buat ngontrak bareng, gw mau aja…karena memang gw orangnya gak suka yang ribet2 dan gak terlalu pilih2 soal tempat tinggal , paling males yang namanya pindah-pindah…ditambah lagi ini rumah murahnya bukan main, 1 kamar Cuma 1,4 juta, buat 2 orang jadi per orang Cuma bayar 700rb per tahun…murah gila, denger angka segitu gw udah gak sempet mikir kondusivitas tempat dan macem2nya, dimana lagi coba bisa dapet kost semurah itu buat mahasiswa di tembalang yang udah rame gila sekarang ini. Gw berani klaim ini kontrakan emang paling murah se semarang raya,hehe…kenapa bisa semurah itu? Lu pasti nanya gitu kan…gw jg gak tau persisnya, Cuma kalo premis anak-anak kontrakan sih karena emang rumah kontrakan ini udah 2 tahun gak dihuni dan terkenal ke’angker’annya, warga sekitar banyak cerita soal penampakan makhluk2 halus (gak ngerti sehalus apa tu makhluk) di rumah tiga lantai yang kita tempati, terutama cerita dari bu “sambel” (red : ibu penjual pecel samping kontrakan yg sambel sm nasinya saingan banyaknya, hahaha…tp skrg udh bangkrut gara2 harga cabe melonjak kala itu,kasian :’(… ), beliau sering cerita soal penampakan dan kengerian kontrakan, bukan Cuma bu “sambel”, bu “bakso”, bu “pecel”, bu “grogi” juga bercerita hal yang sama..(red : nama sengaja disamarkan demi kerahasiaan informan,hahaha…), dan memang selama tinggal di tempat itu kami banyak menemui fenomena2 ganjil, seperti bunyi orang mandi di tengah malam dan dini hari, atau hilangnya celana dalam di jemuran secara misterius, hahahaha… :D (lebih detailnya nanti deh dibuat chapter sendiri).

Selain ke”angker”anya yang membanggakan (lhoo..?), para penghuni kontrakan itu sendiri juga bisa di bilang lumayan membanggakan (biar pada seneng mereka…:D ), hampir seluruh penghuni kontrakan adalah aktivis kampus, gak sembarang aktivis, mereka juga rata2 memegang posisi penting di organisasinya masing2, tidak Cuma menonjol di dunia aktivis, secara akademik pun mereka cukup memuaskan…udah aktivis kampus, akademik bagus, sholeh2 lagi orangnya, subhanallah…calon mantu idaman!! (ini murni pencitraan saudara2,hahaha..). ada lagi yang unik, kontrakan ini dihuni oleh mereka dengan ragam pemikiran yang berwarna-warni, yang biasanya nih kalo di kampus atau luar itu pada berantem atau minimal adu komen adu mulut…di kontrakan ini kami hidup dengan rukun, (you know lah what I mean…) pada intinya, yeeee….dari sini ceritapun dimulai, inilah serial kontrakan samping masjid…HiiiiHaaaaaa!! 


to be continued……..

Thursday, December 5, 2013

Sajak Prajurit


Aku seperti angin
Datang tak diundang
Pergi tak diketahui

Menembus padang gemintang
Lalui deru pertempuran
Mendekat tak terlihat
Terasa saat tersentuh

Aku seperti halilintar
Menghajar tak tersadar
Gemuruh yang terlambat

Satu dua ledakan
Mampu kuciptakan
Seribu ketakutan
Mudah kutebarkan

Kala diri ditengah pertempuran
Diantara desing peluru
Gelegar artileri
Deru mesin perang

Satu yang kuingini darimu
Doakan mati datang kepadaku

..............

Semarang, 23 Agustus 2013

Cinta itu sederhana



Cinta itu sederhana
sesederhana bunyi pesanmu menanyakan kabarku waktu itu

cinta itu sederhana
seperti saat kita berjumpa, hening...tak ada sepatah kata, hanya bahagia, 
itu saja

cinta itu sederhana
tanpa senandung mesra atau seikat bunga, cukup sepertiga malam penuh do'a
untukmu, semoga selalu bahagia

cinta itu sederhana
ia terbang diantarkan angin
berharap sampai tepat saat mozaik-mozaiknya genap terangkai

cinta memang sederhana
tak perlu banyak kata, ia indah pada waktunya



Saturday, November 23, 2013

AKU DAN BUKU

Kesukaanku dengan buku saat ini barangkali tidak lepas dari pengalaman masa laluku yang intim dengan benda kotak beruas-ruas ini. Aku masih ingat ketika awal perkenalanku dengan buku bacaan pertama kali, saat itu usiaku mungkin belum genap 5 tahun. Terus terang aku suka menceritakanya kepada orang-orang karena bagiku cerita ini terdengar dramatis, maklum, aku memang tipe melankolis,hehe…:D berawal dari ketidaksengajaan, ibuku seorang pedagang warung kelontong, kalo yang belum tau definisi warung kelontong, ini sejenis warung yang daganganya macam2, mulai dari bumbu dapur sampai jajanan “bodoh” untuk anak-anak. nahh…biasanya setiap hari ibuku membeli kertas “kiloan” di pasar untuk bungkus bumbu dapur dan dagangan2 lain itu ketika dijual. Kertas2 ini biasanya berupa Koran bekas, tabloid usang, sampai majalah-majalah yang tanggalnya kadaluarsa. Dan dari kertas2 inilah awal perkenalanku yang istimewa dengan majalah bobo, anda tau majalah ini?? Inilah buku bacaan (berbentuk majalah) pertama yang aku kenal, selain iQro’ tentunya… Majalahnya masih kelihatan bagus walaupun beberapa halaman sudah ada yang sobek, jangan tanya tanggalnya. Sudah pasti out of date...:D tapi waktu itu aku belum bisa membaca, aku hanya melihat gambar2nya saja, bagiku gambar-gambar itu sangat menarik. ingin sekali rasanya mengerti bagaimana cerita anak kecil bertopi panjang, kelinci putih yang tampak selalu riang, negeri yang berwarna-warni yang ada didalam buku dan seterusnya. alhasil, sejak saat itu, setiap ibuku membeli kertas kiloan selalu aku bajak duluan, berharap majalah serupa aku dapatkan. Mungkin ada sebagian orang bertanya, kenapa tidak minta dibelikan saja, susah amat…justru disinilah sisi dramatisnya, waktu kecil aku bukan tipe perengek orang tua, jika tidak ditawari lebih dulu jarang sekali aku meminta. jangankan minta dibelikan buku, jajan bakso sunduk yang saban hari lewat depan rumah saja jarang sekali aku memintanya. Oiyaa…fyi, sebelum masuk SD aku tidak pernah masuk TK, tapi sejak kecil, kecil sekali.. aku sudah belajar mengaji di pondok ngaji dekat rumah, mungkin kalo sekarang bisa disebut TPQ. Jadi jauh sebelum kenal aksara latin, aku lebih dulu mengenal aksara arab. Sebelum mahir membaca majalah bobo, aku sudah harus mahir membaca iQro’ dan juz ‘amma. Jadi belajar aksara latin di usia 5 tahun secara otodidak bagiku adalah sisi dramatis yang lain..... :D

Saat SD tak ada kesan istimewa antara aku dan buku. Keintiman kami yang dramatis pada awalnya pun agak sedikit berkurang kadarnya. Dirumah, aku lebih sering disuruh “nderes” (memperbaiki bacaan) alqur’an daripada membaca buku bacaan. (ibuku memang religious,hehe...:D) Lagipula dirumah pun tak ada buku lain selain buku tulis, buku menulis tegak bersambung dan buku gambar. Karena di sekolah, buku paket tidak boleh dipinjam. Baru ketika hampir kelas 6 hubunganku membaik dengan buku bacaan. Saat itu aku senang sekali membaca buku sejarah peradaban dunia, geografi negara2 di dunia sampai bacaan pegetahuan tentang bumi dan planet – planet yang aku pinjam diam-diam dari pamanku yang kelas 2 SMP. (sampai sekarang buku2 itu masih aku simpan, dan kadang aku baca2 ulang). Dan baru setelah SMP lah kegemaranku membaca (lumayan) terfasilitasi. Aku anggap terfasilitasi karena di SMP ku tersedia perpustakaan, walaupun bukunya tak banyak, Aku bisa membaca sepuasnya disana, bisa dipinjam pula. Hebat betul SMP ku ini pikirku, haha…(dasar anak kampung) :D

Buku favoritku masih seputar geografi, sejarah dan bumi & antariksa, Saat itu aku belum begitu mengenal dan tertarik dengan dunia sastra. Oiyaa…ada yang menarik, saat SMP inilah aku bertemu dengan salah satu species benda kotak beruas-ruas yang diberi nama oleh penemunya “(cara mudah) belajar membuat robot”. First sight, aku langsung jatuh cinta. Jadilah pada saat SMP dulu cita-citaku bulat – ingin menjadi scientist robotic – ini istilah yang aku buat sendiri untuk menamai ilmuwan pembuat robot... (ngarang)

Ayat-ayat cinta adalah novel pertama yang aku baca (sampai habis). Sebelumnya belum pernah ada buku2 sastra yang kuat aku baca sampai lembar terakhir. Inilah awal mula aku menyukai buku2 sastra. Awal SMA kelas 2 tepatnya. Agaknya aku harus berterimakasih kepada kang abik untuk yang satu ini. saat aku baca waktu itu, AAC belum begitu terkenal, oknum yang membuat aku terpaksa membaca novel ini adalah siswa berinisial SM, ketua organisasi kerohanian di sekolah. Novel ini memang berisi perjuangan, selain juga kisah cintanya yang dramatis. Emang dasar melankolis, dengan sedikit promosi ala prospector MLM gampang saja rekomendasi itu aku turuti. Tapi bukunya memang bagus, aku ingat sekali waktu itu aku cuma butuh 2 malam saja untuk khatam seluruhnya, sampai testimoni2nya juga,haha… Nahh…sejak saat itu aku mulai rajin membaca novel, semua karya kang abik habis aku nikmati. Semuanya tentu hasil dari meminjam. Keuntungan buatku karena aku cukup mengenal sindikat siswa2 galau di sekolah pemilik buku2 novel sejenis itu. Galau…aku sebut demikian karena mau dinamakan apa lagi mereka, jika baru kelas 2 SMA saja bahasannya sudah tentang istri sholehah, akhwat idaman umat atau menikah di usia muda, dan bacaanya, pudarnya pesona Cleopatra, cinta suci zahrana...ecetraaaaa!!!! itu galau bukan namanya…??haha.. :D setelah itu, aku mulai mengenal banyak jenis karya sastra, trilogy lord of the rings-nya J.R tolkiens adalah yang berikutnya, Dan brown, donny dhirgantoro, asma nadia, helvy tiana rossa, WS Rendra, chairil anwar mulai akrab karya-karyanya aku baca. Dari membaca inilah aku mulai menulis cerita, dari cerpen sampai novelet. Tapi setelah ku baca ulang ternyata jelek semua hasilnya. Akhirnya aku putuskan berhenti saja,hahaha…. :D

Saat kuliah, adalah puncak dari semuanya. walaupun jarang sekali membeli buku (karena faktor budget), agaknya fasilitas untuk membaca buku sudah sangat memanjakan para peminatnya. bicara soal fasilitas, dimana-mana banyak tersedia. Membaca gratis tinggal ke perpusda atau perpustakaan2 lainnya, disana buku banyak macamnya, dari novel sampai yang aneh2 isinya pun ada. intinya saat kuliah buku mudah sekali didapat. Fasilitas ebook pun bisa diakses gratis, tinggal cari wifi gratis bisa sedot sebanyak-banyaknya. Berbeda dengan waktu masih SMP atau SMA. Tapi justru semakin lengkap fasilitas, keintiman itu menjadi sedikit longgar, seperti perumpamaan lain sebuah hubungan, terlalu sering berjumpa pun kadang bisa memicu kerenggangan. Walaupun masih suka membaca tapi dari waktu ke waktu kadarnnya semakin menurun saja. Indeed…Semangat membaca kadang ada pasang surutnya juga.   

Beberapa bulan yang lalu aku diajak seorang teman untuk membantu inisiasi sebuah perpustakaan umum (mini) untuk para peminat buku. Konsepnya sederhana, orang2 yang punya buku dan sudah selesai membaca buku2nya bisa meminjamkannya kepada mereka yang suka membaca buku tapi tidak bisa membeli buku, Saling pinjam buku intinya. Buatku ini menarik. dan konsepnya sangat realistis. Ditambah lagi, aku memang menyukai buku dan dengan itu akupun bisa terfasilitasi. Kemudian aku beri saja masukan agar dibuat komunitas karena alasan pasang surut semangat yang aku jelaskan diatas, barangkali masalah itupun bisa ketemu jawabanya. Finally…baru beberapa minggu kemarin komunitas itu diresmikan. Terus terang aku menaruh apresiasi yang tinggi kepada mereka semua, pegiat-pegiat serta anggota-anggotanya. Aku ingat satu uraian data yang sempat di paparkan salah satu pegiat taman baca waktu peresmian komunitas tersebut bahwa tingkat membaca masyarakat kita sangat rendah ternyata. Angkanya 1:1000 atau dari 1000 orang manusia di negeri ini cuma satu yang baca buku. Agak kaget juga. Artinya adalah sebuah tanggung jawab moral tentunya untuk aku secara pribadi sebagai salah satu diantara mereka yang paling tidak lumayan suka membaca buku dan mengetahui data tersebut untuk ikut ambil bagian meningkatkan angka statistic yang mencemaskan itu. Siapapun tau membaca punya dampak yang besar. Bahkan ada ungkapan jika bangsa yang besar adalah bangsa yang penduduknya gemar membaca. Jadi jika penduduk negeri ini gemar membaca insya Allah bangsa kita ini akan jadi bangsa yang besar.  Ini juga salah satu alasan betapa respect dan tingginya apresiasiku untuk para pegiat2 itu, karena aku yakin betul tak banyak yang berfikir sampai jauh kesana…standing ovation for you all!!!

Akhirnya aku berharap, keintimanku dengan makhluk beruas-ruas ini tak akan pernah berlalu, bahkan semakin hangat dari waktu ke waktu. disamping semakin banyaknya anak-anak muda yang sadar betapa pentingnya budaya membaca ini ditingkatkan sampai pada generasi berikutnya, jadi paling tidak ada harapan bangsa ini bisa maju...mulai dari membaca buku :)   
Salam Pecinta Buku….!!!! 


Rumah Belajar Harapan Sahabat Tenggang (ikhlas berbagi untuk masa depan)

Rumbel Harapan Sahabat Tenggang adalah kegiatan sosial di bidang pendidikan dan pembinaan karakter anak yang diinisiasi oleh sekumpulan anak muda di semarang. Lokasi kami berada di dusun tenggang, kelurahan tambakrejo, kaligawe, semarang...

Lokasi dusun yang berada di pesisir membuat tempat ini akrab dengan bencana Rob, saking akrabnya kejadian yang kita anggap sebagai bencana ini sudah tidak lagi dianggap sebagai sebuah bencana oleh warga sekitar (harmony with disaster), padahal jika Rob datang, ketinggianya bisa mencapai lutut orang dewasa dan merendam sebagian besar rumah warga, bahkan menurut penuturan warga tiap beberapa tahun jalan dan rumah mereka harus ditinggikan jika tidak ingin terendam terus2an, sehingga jangan kaget jika saat berkunjung kesana anda akan banyak menjumpai rumah yang lantainya berada dibawah permukaan jalan. persoalan tidak sampai disitu, Rob yang datang pun biasanya satu paket dengan sampah, perilaku warga yang biasa membuang sampah seenaknya di bantaran sungai atau di belakang rumah2 mereka memberi konsekuensi kiriman sampah yang melimpah saat rob datang. jenis sampah ini beraneka ragam mulai dari sampah rumah tangga (plastik kaleng dkk) sampai "sampah" manusia produksi toilet2 portable yg tersebar di sepanjang sungai. dan yang mengkhawatirkan adalah jika rob datang atau saat sungai tenang anak-anak biasa berenang riang bersama-sama disana tanpa tau bahayanya.

Selain masalah Rob, terdapat masalah lain yang juga khas wilayah pesisir yakni masalah sosial dan pendidikan, utamanya untuk anak dan remaja. cukup banyak anak2 disana yang putus sekolah saat lulus SMP, alasannya beragam mulai dari tak ada biaya sampai karena memang tidak berminat sekolah. kondisi ini praktis memunculkan masalah sosial khas remaja akibat pergaulan yang tak terjaga, banyak remaja tanggung (usia SMP) yg sudah mengenal drugs dan kawan2nya, satu kejadian unik saat kami menanyakan perihal siapa idola mereka, beberapa anak menjawab kompak "genji" (tokoh dlm film crows zero), anda tentu tau bukan siapa orang ini, intinya secara tersirat kami menangkap bahwa kekerasan sudah menjadi bagian hidup mereka, faktor perhatian dan bimbingan dari orang tua yang kurang juga menjadi poin lainya....tentu ini mencemaskan. namun disisi yang berbeda ternyata ada harapan yang terpendam disana, menunggu untuk dimunculkan, tidak sedikit juga anak-anak yang memiliki semangat belajar tinggi dan kemauan untuk berprestasi. tapi mereka kurang terfasilitasi, mereka kurang akses pengetahuan dan bimbingan, dan mereka tidak memiliki lingkungan yang kondusif untuk menjaga semangat dan mimpi2nya. berangkat dari sana, Rumah belajar harapan sahabat tenggang mencoba untuk menjaga harapan2 itu tetap ada, kami berusaha memfasilitasi anak-anak tersebut suasana dan lingkungan yang baik, akses pengetahuan, pendidikan karakter (utamanya cinta lingkungan) serta menjaga semangat mereka terus ada...untuk mencapai tujuan2 tersebut ada beberapa kegiatan yang kami lakukan diantaranya, kegiatan rutin belajar bersama 2 kali dalam seminggu, membuat perpustakaan mini untuk anak2, kelas bakat dan konseling, serta kegiatan2 lain yang bersifat event setiap bulannya...dalam menjalankan kegiatan, kami dibantu oleh volunteer2 yang luar biasa sebagian besar dari mereka adalah mahasiswa sisanya adalah anak muda sekitar dusun, tak ada yang bisa kami ucapkan selain penghargaan yang sebesar2nya untuk mereka, ikhlas berbagi tanpa imbalan materi...salute!

Akhir kata sebenrnya tidak banyak yang bisa kami berikan untuk mereka, anak-anak dusun tenggang yang ceria, apa yang kami lakukan adalah bentuk sumbangsih yg tak seberapa dan mungkin kecil dampaknya, tapi kami percaya bahwa sekecil apapun harapan, ia harus tetap dijaga... ikhlas berbagi untuk masa depan!!!



Rumah Belajar Harapan Sahabat Tenggang
Sekretariat : Dusun tenggang Rt03 Rw01, kelurahan tambakrejo, kaligawe, Semarang (rumah pak sudiasto)
cp humas : Enra (085726062996) isti (085723544461)
FP facebook : Rumah Belajar Harapan "sahabat tenggang"
twitter : @sahabatpulauSMG
website : http://www.sahabatpulausemarang.com

Donasi : BNI  0301437347  an. Suwandi Bn Duladi 
*donasi bisa berupa uang, buku atau lainnya


Tuesday, August 20, 2013

Dengarkan Curhatku : Sekolah Harusnya Murah!!!

Saya ingat betul bagaimana perjuangan saya untuk bisa menikmati pendidikan sampai perguruan tinggi. orang tua harus banting tulang mati-matian untuk membayar ongkos sekolah yang untuk ukuran keluarga saya sangat mahal. Teman-teman saya di desa bahkan banyak yang tidak pernah berfikir tentang kuliah karena kuliah bagi mereka ibarat barang mewah yang tidak perlu susah-susah diperjuangkan karena memang untuk ukuran mereka tempatnya cuma ada diangan-angan, masalahnya bukan karena tidak faham arti penting pendidikan tapi lebih banyak karena ongkosnya yang membumbung diluar kemampuan.

Akhir-akhir ini saya mencoba mencari sekolah untuk adik saya, tentu saya mencari sekolah dengan kualitas baik dan murah, atau paling tidak bisa dijangkau oleh kemampuan ekonomi keluarga yang tak seberapa, hasilnya tak kunjung saya temui sekolah dengan kualitas baik yang ongkosnya bisa kami jangkau. Barangkali memang “makin mahal makin bermutu” sudah menjadi kredo dunia pendidikan saat ini, persis kredo rumah bordil!!. Dan tentu dengan kredo semacam itu ada diskriminasi yang tegas terhadap kalangan miskin, padahal jelas-jelas dalam konstitusi diamanatkan bahwa pendidikan adalah hak setiap warga Negara tanpa ada pembedaan status sosial. Kondisi ini diperparah lagi dengan Realitas dimana banyak juga sarjana yang ujung-ujungnya tak kebagian pekerjaan. sudah susah payah keluar uang untuk sekolah yang jumlahnya tidak sedikit ujung-ujungnya jadi pengangguran ini tentu sebuah kesalahan. Agaknya pendidikan yang mahal ini terjadi karena negara yang terlalu malas untuk mengambil peran, hasilnya kapitalisme pendidikan merajalela. Pendidikan pun menjadi komoditi para pengusaha dan penguasa. Akhirnya saya pun bisa memahami bahwa banyak persoalan negeri ini, soal korupsi, kenakalan remaja (yang sekarang sudah bertransformasi menjadi kejahatan remaja), kemiskinan, kriminalitas tak pernah lepas dari kontribusi dunia pendidikan yang kacau balau ini.

Mari kita coba telaah, kata kuncinya adalah kompetisi dan globalisasi, kini sekolah adalah tempat dimana ruang belajar bukan lagi ada pada guru. Belajar identik dengan perolehan kemampuan dan keterampilan. Seperti computer, bahasa asing dll. Muaranya adalah pada bagaimana para siswa dapat berkompetisi di era globalisasi. Dunia yang semakin menciut ini telah meletakkan badan setiap orang untuk bergesekan dan berlomba. Berebut posisi dan kedudukan kian membuat kebutuhan untuk menjadi unggul jadi sesuatu yang primer. Keunggulan itulah yang telah membuat sekolah seperti perusahaan catering. Menyiapkan macam-macam menu yang diorientasikan pada rasa enak dan kenyang. Sekolah tidak bangga karena murah biaya, tapi akan bertepuk dada karena fasilitas yang lengkap. Fasilitas itu bentuknya berupa gedung dan ruangan yang megah, hingga pengajar dari berbagai Negara, janjinya selalu saja serupa, akan lahir lulusan yang siap bertarung dalam iklim global.

Globalisasi ini memang membuat setiap orang dihinggapi rasa takut dan cemas, karenanya pengangguran telah membuat setiap lapis generasi harus siap untuk menjadi orang terbuang. Lembaga pendidikan pun akhirnya mengalami nasib yang tragis. Lembaga pendidikan berjalan dengan orientasi meraup laba sebesar-besarnya. Pendidikan kini harus mengubah strategi, dari upaya untuk pencerdasan menjadi unit bisnis untuk melahirkan produk sebanyak-banyaknya. Pendidikan saat ini berubah menjadi mesin industri. Mesin yang bekerja dengan logika efisiensi dan efektivitas. Dengan mempercepat waktu pembelajaran, pendidikan kemudian lebih mirip dengan proses pembuatan sabun, mengeluarkan dalam jumlah banyak tanpa perbedaan sama sekali. Swastanisasi ini lah yang menjadi biang keladi terutama ketika memasuki dunia pendidikan, ada kepentingan yang menyelinap dari kalangan pemodal utamanya ketika mendirikan sekolah, seperti sebuah pabrik sekolah akan menghasilkan makhuk yang namanya bermacam-macam, yang normal memang akan menghasilkan lulusan yang bisa berbuat apa saja, yang mengejutkan akan mengeluarkan anak didik yang memiliki kepedulian tinggi atas banyak masalah, tapi yang umum akan cetuskan pengangguran. Tapi mana peduli sekolah dengan lulusannya yang berkarir sebagai penganggur. Sekolah memang bukan monster yang haus akan uang, tapi yang benar sekolah memang terus menerus memerlukan biaya. Dari tahun ke tahun sekolah menaikkan ongkos dengan alasan yang bermacam-macam.

Begitulah dunia pembelajaran kemudian menjadi tempat yang mahal, pendidikan menjadi aktivitas yang sulit untuk diakses setiap orang. Tiap kali disusun usaha untuk melawan komersialisasi sekolah maka serangan balik muncul. Ada yang menganggap sekolah mahal itu memang syarat mutlak jikalau ingin maju. Disekeliling lingkungan pendidikan terbentuk anggapan bahwa mutu terdapat dalam mekanisme penyusunan materi dan bagaimana metodologi pengajaran disajikan. Makanya sejak dini anak diberi beban yang menakjubkan, beban itu bukan hanya berbentuk pelajaran melainkan juga uang iuran yang beraneka ragam. Sekolah harusnya murah, agar terjangkau setiap warga Negara, karena memang itu hak yang harus di tunaikan Negara sebagai bagian dari kontrak sosial yang dibuat dalam bentuk konstitusi.


Sekolah harusnya murah tuan
Agar kami yang ingin pintar tak harus kepayahan
Lebih buruk, kami ambruk sebelum sampai tujuan
Sekolah harusnya murah tuan
Karena mendidik kami yg miskin adalah kewajiban, 
itu tujuan Negara didirikan, 
yang bapak2 pendiri bangsa ini inginkan…
Negara berdaulat juga bermartabat, oleh karenanya kami harus pintar tuan…